Home » Biar Nggak Mudah Kena Prank Karena Kurang Paham Soal Politik, Baca 4 Buku Ini

Biar Nggak Mudah Kena Prank Karena Kurang Paham Soal Politik, Baca 4 Buku Ini

by Erna Sari Ulina Girsang
3 minutes read
Buku Gerpolek Gerilya Politik Ekonomi. Foto: Gramedia

ESENSI.TV - JAKARTA

Indonesia sedang berada dalam tahun politik. Puncak Pesta Demokrasi setiap lima tahunan akan digelar tahun depan, tepatnya tanggal 14 Februari 2024.

Pada saat itu, seluruh Warga Negara Indonesia yang sudah berusia 17 tahun ke atas dapat menentukan siapa Presiden dan Wakil Presiden serta anggota legislatif di DPR RI dan DPRD.

Namun, di tahun politik ini ada baiknya kamu juga memperkaya diri dengan pemahaman soal politik, sehingga tidak mudah terombang-ambing prank dari politikus yang tidak bertanggung jawab.

Terutama politisi yang membelokkan logika dan politik yang ideal, bahkan membelokkan sejarah untuk mendapatkan kekuasaan dari pesta demorask ini.

Berikut empat buku yang dapat kamu baca, seperti dirangkum dari laman Gramedia.

1. Perjalanan Politik Gusdur

Buku Perjalanan Politik Gus Dur. Foto: Gramedia

Buku Perjalanan Politik Gus Dur. Foto: Gramedia

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih menjadi Presiden Keempat RI sebagai figur perekat berbagai komponen bangsa yang saat itu sedang terkoyak.

Tetapi, perjalanan politik presiden yang kiai ini ternyata berlikaliku. Berbagai pernyataannya kerap kontroversial dan menimbulkan teka-teki. Humor-humor politik yang sering ia lontarkan kian membingungkan banyak orang.

Apakah pernyataan kontroversial itu merupakan bencana atau berkah bagi Gus Dur sendiri selaku Presiden? Pernyataan Gus Dur bahwa anggota DPR mirip Taman Kanak-kanak menuai protes.

Apa sebenarnya latar belakang dia mengeluarkan semua istilah itu, serta kasus apa yang akhirnya terungkap dibaliknya?

Buku ini ditulis oleh Wartawan dan Kolumnis Kompas.

2. Lahir Sebagai Petarung

Buku Lahir Sebagai Petarung Panda Nababan. Foto: Gramedia

Buku Lahir Sebagai Petarung Panda Nababan. Foto: Gramedia

Otobiografi karya Panda Nababan ini terbagi menjadi dua buku, pertama diberi sub judul Menunggang Gelombang, kedua diberi sub judul Dalam Pusaran Arus Kekuasaan yang jika digabungkan tebal bukunya lebih dari 1.000 halaman.

Dimana buku pertama menekankan perjalanan Panda Nababan sejak kecil hingga menjadi wartawan, lalu di buku kedua berkisah tentang kehidupannya sebagai politisi termasuk bagaimana saat ia berinteraksi dengan beberapa Presiden Republik Indonesia.

Peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Panda, mulai kecil, menjadi mahasiswa, lalu menjadi jurnalis diurai. Buku satu dengan judul ‘Lahir sebagai Petarung’ terdiri dari 18 bab, berisi 616 halaman menceritakan Panda sejak kelahirannya.

Begitu juga saat Panda menjadi politisi, baik semasa di level Sumut hingga ke Senayan diceritakan gamblang di buku kedua berjudul ‘Dalam Pusaran Kekuasaan.

3. Gerpolek Gerilya-Politik-Ekonomi

Buku Gerpolek Gerilya Politik Ekonomi. Foto: Gramedia

Buku Gerpolek Gerilya Politik Ekonomi. Foto: Gramedia

Dulu, Tan Malaka sangat merisaukan makin menciutnya wilayah Republik Indonesia ini dengan berdirinya “Negara Boneka” yang dibentuk oleh Belanda.

Baca Juga  Petisi Kembalikan Work From Home Ditandatangani Lebih Dari 9.000 Orang  

Sementara kaum kapitalis, kolonialis, dan imperialis berhasil mengacaukan perekonomian dan keuangan Republik Indonesia.

Oleh karena itu, Tan Malaka tidak mengenal kompromi dengan kekuatan kolonialisme dan imperialisme ini.

Tan Malaka tidak menyetujui perundingan dengan lawan. la menganggap berunding adalah sikap mengorbankan kedaulatan dan kemerdekaan rakyat.

Gerpolek merupakan sebuah buku yang dikonsep dan ditulis oleh Tan Malaka ketika dirinya meringkuk di penjara Madiun. Buku Gerpolek ini ditulis tanpa dukungan informasi kepustakaan apa pun.

Sang penulis, Tan Malaka, hanya mengandalkan pengetahuan, ingatan, dan semangat kepemimpinan untuk tetap memikirkan kelangsungan kemerdekaan dari Republik tercinta ini.

Kini, di zaman modern, kata “merdeka” ini seperti telah tergerus dalam pengertian yang semu. Campur tangan dari pihak asing dan kepentingan pribadi telah mengalahkan semangat proklamasi.

Oleh karena itu, tulisan ini masih relevan untuk disimak. Melalui karya besarnya ini, Tan Malaka menyatakan sikapnya tentang politik dan ekonomi yang bebas dan merdeka.

4. Politics Of Citizenship In Indonesia

Buku Politics of Citizenship in Indonesia. Foto: Gramedia

Buku Politics of Citizenship in Indonesia. Foto: Gramedia

Argumen utama di dalam buku ini adalah bahwa kewargaan dibentuk dan dipraktekkan melalui serangkaian gerakan melawan ketidakadilan.

Gerakan-gerakan ini berupa serangkaian perjuangan oleh rakyat di level akar rumput dan kelas menengah beserta organisasi perwakilan dan para aktivisnya untuk pengakuan kultural, keadilan ekonomi dan sosial, serta representasi politik.

Perjuangan ini dapat secara umum berujung pada keterlibatan mereka dengan negara melalui proses-proses diskursif dan non-diskursif.

Kendati negara menjadi simpul yang utama, perjuangan-perjuangan ini seringkali masih tercerai-berai, baik antar-sektor maupun posisi-posisi subjek.

Membangun rantai solidaritas antar-fragmen perjuangan tersebut sangatlah penting, namun upaya-upaya yang dilakukan selama ini masih belum memenuhi harapan.

Karakter dan fragmentasi gerakan rakyat tersebut mencerminkan keberagaman ketidakadilan dan posisi-posisi subjek dalam masyarakat, yang pada saat bersamaan juga dipengaruhi oleh dinamika politik.

Perjuangan kewargaan dan sejarah perkembangan demokrasi di Indonesia berkaitan satu sama lain.

Ketidakmampuan untuk menjembatani fragmentasi antar-perjuangan kewarganegaraan mencerminkan kurangnya kapasitas gerakan pro-demokrasi dalam membangun aliansi yang lebih luas. D

i samping itu, kecenderungan gerakan-gerakan ini untuk menjadi elitis dan terbiasa dalam mempenetrasi negara juga mewarnai karakter perjuangan kewargaan kontemporer.

Di tengah situasi pelbagai ketidakadilan, kolektivitas dan mobilisasi, dapat dikatakan bahwa representasi dan politik demokratis menjadi arena paling utama untuk mengintegrasikan dan mentransformasikan hubungan-hubungan antagonistik dalam perjuangan perjuangan popular yang terfragmentasi.

Buku ini ditulis oleh Eric Hiariej dan Kristian Stokke, diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. *

Email: ernasariulinagirsang@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H Napitupulu

#berita viral
#beriteterkini

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life