Home » Dari Analisis Teknikal Hingga Feng Shui, Ini Ramalan Kinerja Saham di Tahun Kelinci

Dari Analisis Teknikal Hingga Feng Shui, Ini Ramalan Kinerja Saham di Tahun Kelinci

by Erna Sari Ulina Girsang
188 views 4 minutes read
tahun kelinci

ESENSI.TV - JAKARTA

Sudah menjadi tradisi bagi pelaku pasar modal, terutama di Asia, untuk mengetahui ramalan kinerja indeks saham setelah Sincia atau setelah perayaan penggantian tahun menurut kalender China. Apalagi kalau bukan, ramalan kinerja saham di Tahun Kelinci.

Fengshui adalah seni dan pendekatan ilmu yang diwariskan turun-temurun pada masyarakat Tionghoa kuno. Di pasar modal, pendekatan Feng Shui digunakan untuk menghitung siklus harga saham, peluang pengembangan aset, bisnis dan investasi.

Berdasarkan astrologi China, tahun 2023 adalah Tahun Kelinci. Periodenya, dimulai setelah Perayaan Imlek, yaitu tanggal 22 Januari 2023 dan akan berakhir di hari H Imlek tahun depan, yaitu tanggal 9 Februari 2024.

Para analis saham juga tidak jarang menjadikan Feng Shui sebagai salah satu metode untuk menentukan prediksi posisi indeks harga saham, terutama mendalami filosofis yang ada untuk mengubah dan menentukan strategi investasi.

Mengutip Master Feng Shui Yulius Fang, Wendy Chandra, Research Analyst RHB Sekuritas Indonesia, dalam webinar di Jakarta, Rabu (25/1/2023) mengatakan Tahun 2023 atau Tahun Kelinci adalah gabungan antara elemen kayu kecil dan air kecil.

Apa sih maksudnya ini? Elemen kayu kecil diibaratkan sebagai tanaman kecil seperti merambat yang penting bukan pohon, seperti rumput. Sedangkan, air kecil artinya adalah seperti kabut atau embun.

Nah, ketika kedua elemen ini digabungkan, maka akan diperoleh gambaran bahwa tanaman merambat itu ingin tumbuh, tetapi matahari yang dibutuhkan untuk berkembang terhambat oleh kabut.

Namun, jangan langsung patah semangat. Ternyata, tahun kelinci selalu memberikan peluang bagi elemen logam. Artinya, elemen logam bisa menjadi bisnis yang menguntungkan di tahun kelinci.

“Nah, untuk tahun ini walaupun tidak bagus sekali, tapi memang di setiap kondisi yang urang bagus itu tentunya ada kesempatan di dalamnya bisa kita ambil, tetapi ya tetap harus berhati-hati dalam mengambil keputusan,” ujar Wendy.

Feng Shui Anjurkan Beli Saham Logam

Mengacu kepada prediksi Master Feng Shui Julius Fang, Wendy mengatakan sektor yang memberikan keuntungan tahun ini diperkirakan adalah sektor otomotif, elektronik, komputer, alat berat, sparepart, fintech, pertambangan mineral produk logam, emas dan telekomunikasi.

Jadi, berdasarkan ramalan kinerja saham di Tahun Kelinci versi Feng Shui belilah, saham-saham yang berkaitan dengan logam tahun ini. Namun, ingat setiap rekomendasi saham, sifatnya disclaimer on. Keputusan dan konsenkuensi di tangan investor, jadi wajib pahami dulu sebelum melakukan transaksi.

Soal kabut yang disampaikan Sang Master Feng Shui, jika memakai ilmu cucokologi, tim analis dan riset dari Schroders Indonesia punya ramalan yang mirip, tetapi perusahaan efek ini menggunakan bahasa kurang cerah.

Meski kurang cerah dibandingkan tahun 2022, Schroders Indonesia dalam Outlook Pasar Saham 2023 memperkirakan, tahun 2023 masih akan menjadi tahun solid bagi Indonesia. Di awal tahun akan ada penyesuaian harga komoditas, terutama batu bara.

“Kami memperkirakan tahun 2023 masih akan menjadi tahun yang solid bagi Indonesia, meskipun tidak secerah tahun 2022. Tahun lalu, pasar saham Indonesia menjadi favorit di kalangan investor karena IHSG membukukan return 4,1%,” tulis Schroders Indonesia.

Perekonomian akan digerakkan oleh domestik, peningkatan penghasilan perusahaan pasca-Covid dan pemulihan pertumbuhan ekonomi, serta harga komoditas yang tinggi menjadi banyak alasan untuk investor asing memburu saham Indonesia sepanjang tahun.

Tahun ini, Schroders meramalkan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5 persen. Lebih rendah dari prediksi Pemerintah dan DPR RI dalam APBN 2023 yang menetapkan laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di posisi 5,3 persen.

Konsumsi dan investasi diperkirakan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Tahun Kelinci. Di pasar modal, investor asing menopang dengan baik pasar saham Indonesia pada tahun 2022 dengan inflow total sebesar Rp61 triliun atau USD3,9 miliar.

Sementara itu, investor lokal telah memegang banyak uang tunai sejak semester kedua tahun 2022. Dana ini, diperkirakan masih akan menjadi amunisi bagi investor dalam negeri untuk mendukung pasar pada tahun 2023.

Risiko Kinerja Saham di Tahun Kelinci

Namun demikian, terdapat sejumlah risiko di pasar saham ramalan kinerja saham di Tahun Kelinci memasuki tahun 2023. Pertama, potensi lonjakan inflasi. Namun, inflasi ternyata lebih jinak dari yang diperkirakan, bahkan setelah kenaikan harga bahan bakar.

“Kedua, penurunan tajam harga komoditas akan menimbulkan risiko terhadap pasar saham dan mata uang Indonesia, meskipun menurut kami musim dingin dan ketegangan geopolitik akan membuat penurunan harga komoditas berlangsung lebih bertahap,” tulis Schroders.

Baca Juga  Humor Berfungsi Lebih Dari Sekadar Candaan

Ketiga, perbaikan lanskap politik dan makro China, berpotensi menarik uang asing kembali ke China. Saat ini, investor global tampaknya memiliki pandangan beragam terhadap China karena perkembangan terakhir di negara tersebut dalam satu tahun terakhir.

Keempat, pemulihan sebelumnya di pasar AS, termasuk pembalikan kebijakan, akan mendorong uang asing kembali ke AS. Kelima, mungkin ada gangguan yang datang dari lanskap politik menjelang Pemilihan Presiden tahun 2024.

Kemudian, bagaimana dengan target dari Bursa Efek Indonesia sendiri di Tahun Kelinci?

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi, di hari perdana perdagangan IHSG tahun ini, mengatakan penghimpunan dana di pasar modal ditargetkan Rp170 triliun tahun 2023. Lebih rendah dari realisasi tahun 2022, yaitu Rp267,73 triliun.

Sedangkan, dalam beberapa kesempatan, Direktur Utama BEI Iman Rachman mengemukakan target emiten pendatang baru tahun ini sebanyak 57 perusahaan. Sedikit di bawah realisasi IPO tahun 2022 yang mencapai 59 perusahaan.

Rata-rata nilai transaksi harian pada 2023 diharapkan naik menjadi Rp14,75 triliun dari rata-rata Rp13,75 triliun tahun lalu. Jumlah investor ditargetkan naik 35 persen tahun 2022 yang telah mencapai sekitar 4,44 juta investor.

Untuk IPO, di akhir tahun 2022, jumlah perusahaan terbuka masih mencapai 825 emiten. Sedangan, hingga tanggal 25 Januari 2023 telah mencapai 834. Artinya ada penambahan 9 perusahaan dalam kurun waktu 25 hari.

Sedangkan, akhir pekan lalu, Jumat (20/1/203), Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan pihaknya mencatat ada 45 perusahaan dalam pipeline calon perusahaan yang akan listing di BEI.

“Dari 45 perusahaan dalam pipeline pencatatan BEI, diperkirakan dana yang dihimpun sebesar Rp49,5 triliun,” ujar Nyoman, seperti dikutip sejumlah media massa.

Jika melihat bidang usaha perusahaan, paparnya, sebagian besar berasal dari sektor barang-barang konsumsi primer dan teknologi, selebihnya dari berbagai sektor bisnis. Dari 45 perusahaan itu, 11 perusahaan yang sudah berada di dalam sistem e-IPO.

Kalau begitu, emiten yang telah merealisasikan pencatatan saham di BEI sejak awal tahun mencapai 9 perusahaan. Kemudian, ditambah 45 perusahaan dalam pipeline, maka jumlahnya telah mencapai 53 perusahaan.

Angka ini hanya kurang 4 perusahaan dari target IPO yang ditetapkan BEI untuk tahun 2023.

Jadi, jika semua calon emiten di daftar pipeline pencatatan berjalan lancar, maka tentu saja besar kemungkinan target IPO tahun ini akan tercapai karena tinggal mencari 4 perusahaan lagi pada 11 bulan ke depan.

Mengenai pergerakan IHSG, secara teknikal RHB Sekuritas Indonesia juga punya ramalan Kinerja Saham di Tahun Kelinci.

Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, dalam laporan Strategi Investasi di Tahun 2023, memperkirakan IHSG akan menghadapi volatilitas tinggi selama Semester I/2023.

Namun, IHSG akan bergerak positif di akhir tahun 2023 ke posisi 7.450. Sedangkan, di semester I/2023 ada potensi IHSG turun ke posisi 6.500, menyusul meningkatkan volatilitas pasar, sehingga investor direkomendasikan untuk melakukan strategi buy on weakness.

Thomas Nugroho, CEO RHB Sekuritas Indonesia, mengatakan agar Investor tetap optimis dalam volatilitas pasar. dapat menggunakan seluruh fasilitas online trading RHB, yaitu RHB TradeSmart ID.

Tidak pasti apakah target otoritas bursa efek Indonesia, serta prediksi tim riset dan analis di Schroders Indonesia dan RHB Bahana Sekuritas sudah memasukkan unsur-unsur Feng Shui juga.

Akan tetapi, tetap saja dalam ekonomi ramalan atau prediksi alias asumsi menjadi modal utama karena banyak sekali faktor-faktor yang bisa mempengaruhi pembentukan sebuah indikator ekonomi.

Kembali ke ramalam Ahli Feng Shui Julius Fang, Wendy mengatakan meski ada kabut dan sumber daya juga hanya dalam bentuk tumbuhan merambat di tahun 2023, itu bukan berarti tidak dapat mencapai kesuksesan.

“Hanya, disarankan bagi pelaku industri pasar modal atau pasar keuangaan secara lebih luas untuk masing-masing melakukan evaluasi strategi-strateginya kembali sebelum mengambil keputusan,” tutup Wendy dalam temu pers daring soal Feng Shui dan proyeksi saham 2023 itu.*

Email Penulis: ernasariulinagirsang@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang

#beritaviral
#beritaterkini

 

 

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life