Home » Desak Isreal dan Hamas Kembali Gelar Perundingan, PBB: Kondisi Gaza Lebih Buruk Dari Sebelum Gencatan Senjata

Desak Isreal dan Hamas Kembali Gelar Perundingan, PBB: Kondisi Gaza Lebih Buruk Dari Sebelum Gencatan Senjata

by Erna Sari Ulina Girsang
2 minutes read
Sejumlah wanita di Palestina menangisi anggota keluarga mereka yang meninggal di Al-Nasser Medical Hospital, di Khan Younis, Gaza Selatan, pekan lalu. Foto: ©UNICEF/UNI472270/Zaqout

ESENSI.TV - JAKARTA

Badan PBB untuk Hak Asasi Manusia (United Nations High Commissioner for Human Rights/UNHCR) mendesak Irael dan Hamas kembali ke perundingan, setelah gencatan senjata berakhir dan perang kembali terjadi.

Komisaris Tinggi UNCHR Volker Türk mengatakan kondisi Gaza saat ini lebih buruk dibandingkan sebelum terjadinya gencatan senjata, setelah Israel kembali melakukan serangan ke daerah tersebut.

“Perang di Gaza dan dampaknya  mengerikan terhadap warga sipil. Kami  mendesak agar kedua belah pihak segera mengakhiri kekerasan dan menemukan solusi politik jangka panjang antara Palestina dan Israel,” jelas Volker Turk, dalam keterangan PBB, dikutip Senin (4/12/2023).

“Jangan gunakan senjata dan kembali berdialog. Penderitaan yang dialami warga sipil terlalu berat untuk ditanggung. Lebih banyak kekerasan bukanlah jawabannya. Hal ini tidak akan membawa perdamaian dan keamanan,” tambah Volker Türk.

Mengitup keterangan Kementerian Kesehatan Palestina, Türk mengatakan pertempuran kembali terjadi pada hari Jumat lalu dan ratusan warga Palestina tewas akibat pemboman Israel.

Tidak ada bantuan yang masuk ke wilayah kantong tersebut melalui penyeberangan Rafah dengan Mesir pada Jumat dan pengiriman pada hari Sabtu dibatasi.

Kondisi ini, jelasnya,  berdampak pada operasi kemanusiaan untuk membantu jutaan orang di tengah kelangkaan makanan, air, bahan bakar dan kebutuhan pokok lainnya.

Tidak Ada Tempat Aman

Dia mengkhawatirkan permusuhan yang baru dan semakin intensif akan menyebabkan lebih banyak kematian, penyakit, dan kehancuran.

Ia menekankan bahwa hukum internasional dan hukum hak asasi manusia menjunjung tinggi perlindungan warga sipil dan fasilitasi akses kemanusiaan tanpa hambatan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Kepala Hak Asasi Manusia PBB juga menyoroti bagaimana ratusan ribu orang yang tersisa di Gaza utara menghadapi risiko baru terkena pemboman dan terus kekurangan makanan dan kebutuhan pokok lainnya.

Dia mengatakan situasi yang mengerikan ini dan perintah untuk pindah ke selatan berarti orang-orang pada dasarnya terpaksa pindah dalam upaya untuk mengosongkan Gaza utara dari warga Palestina.

Baca Juga  Sekjen PBB Guterres Ingatkan Situasi di Gaza Semakin Memburuk

Ia mendesak negara-negara anggota untuk melakukan segala daya mereka untuk memastikan semua pihak mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan mencegah dilakukannya kejahatan internasional.
URL Tweet

“Waktunya untuk mengubah arah adalah sekarang. Mereka yang memilih untuk mengabaikan hukum internasional akan mendapat pemberitahuan bahwa akuntabilitas akan ditegakkan. Tidak ada seorang pun yang kebal hukum,” katanya.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan laporan tentang permusuhan dan pemboman yang sedang berlangsung sangatlah “mengerikan”.

Perundingan Gagal

Sebelumnnya, serangan Israel di Gaza telah memasuki hari kedua, setelah gencatan senjata tujuh hari dengan Hamas berakhir.

“Neraka di Bumi telah kembali ke Gaza,” kata Jens Laerke, juru bicara kantor kemanusiaan PBB di Jenewa, seperti dilansir dari Al Jazeera, Sabtu (2/12/2023).

Perundingan gencatan senjata antara Israel dan Palestian berjalan buntu dan Tim negosiator Mossad Isreal telah diperintahkan untuk meninggalkan Qatar untuk kembali ke Israel.

“Karena perundingan menemui jalan buntu dan mengikuti instruksi dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Kepala Mossad David Barnea memerintahkan tim perunding di Doha, Qatar, untuk kembali ke rumah,” tulis laporan Times of Israel dengan narasumber dari kantor Netanyahu yang dikeluarkan atas nama badan intelijen.

Laporan itu menyebutkan alasan kebuntuan perundungan adalah karena Hamas tidak bersedia memenuhi perjanjian gencatan senjata beberapa hari lalu, yaitu membebaskan semua sandera perempuan dan anak-anak.

“Kelompok teror Hamas tidak memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian yang mencakup pembebasan semua perempuan dan anak-anak yang ada dalam daftar yang diberikan kepada Hamas yang mengizinkannya,” kata pernyataan itu, menurut Times of Israel.

Email: ernasariulinagirsang@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H. Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life