Home » Jakarta Hingga New York Terancam Tenggelam Akibat Gedung Pencakar Langit

Jakarta Hingga New York Terancam Tenggelam Akibat Gedung Pencakar Langit

3 minutes read

ESENSI.TV - JAKARTA

Gedung pencakar langit adalah sebuah keajaiban arsitektur dunia. Pertambahan populasi bumi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, menjadikan pembangunan kota vertikal menjadi pilihan banyak kota.

Revolusi pembangunan kota vertikal paling cepat terjadi di China dalam beberapa tahun terakhir.

Seperti dilansir dari Visual Capitalist mengutip Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH), Hong Kong adalah kota yang paling banyak mengkoleksi gedung pencakar langit dan super tinggi di dunia.

Saat ini, Hong Kong memiliki 657 gedung pencakar langit dengan tinggi bangunan di atas 150 meter dan 6 bangunan super tinggi dengan ketinggian lebih dari 300 meter.

Diurutan kedua ada Shenzhen yang memiliki gedung pencakar langit sebanyak 513 unit dan 16 gedung super tinggi.

Termasuk Hong Kong dan Shenzhen, ada 10 kota lagi di China yang masuk 25 besar kota pemilik gedung pencakar langit dan bangunan super tinggi di dunia.

Sebut saja, Guangzhou, Shanghai, Chongqing, Wuhan, Chengdu, Shenyang, Nanning, Tianjin, Nanjing dan Changsha.

Sementara itu, kota lain yang masuk dalam 25 besar pemilik gedung pencakar langit dan gedung super tinggi di dunia adalah New York City, Dubai, Kuala Lumpur, Tokyo, Chicago, Jakarta, Bangkok, Singapura, Mumbai, Toronto, Busan, Seoul dan Melbourne.

New York Miliki 16 Gedung di Atas 300 Meter

Urbanisasi yang cepat, pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi dipadu dengan proyek konstruksi dan arsitektur ambisius menjadi pendorong munculnya gedung pencakar langit dan super tinggi di kota-kota dunia.

Semua proyek ini memikat warga kota, bahkan masyarakat dunia.

Sehingga gedung-gedung tinggi sering kali menjadi ikon sebuah kota dan menarik pendatang, tidak hanya pelancong tetapi mengundang urbanisasi baru.

Namun, di sisi lain, semua kebanggan dan kemewahan yang dianggap sebagai solusi menarik ini memiliki konsekuensi yang perlu mendapatkan perhatian besar.

Gedung tinggi yang disebut dengan hutan beton ternyata menyebabkan beban yang sangat berat bagi permukaan tanah.

Sehingga secara perlahan menyebabkan permukaan tanah turun dan secara perlahan mengancam koda-kota.

Diawali dari semakin tingginya potensi banjir, hingga tenggelam.

Kita ambil satu contoh New York. Dengan perkembangan kota-kota di China, posisi New York tergeser menjadi kota pemilik hutan beton tertinggi di dunia.

Namun, jauh sebelum China mengembangkan kota vertikalnya, New York telah lebih dulu membangun hutan betonnya. Contohnya, Empire State Building yang ikonik.

Saat ini, Kota New York memiliki 421 gedung pencakar langit atau ketinggian lebih dari 150 meter.

Sedangkan, gedung super tinggi dengan ketinggian di atas 300 meter ada sebanyak 16 bangunan.

Baca Juga  32 Negara Peserta Piala Dunia Menembak Tiba di Jakarta, Indonesia Turunkan 32 Atletnya

New York Tenggelam 1-2 Milimeter/Tahun

Bangunan pencakar langit Kota New York memang ikonik, tetapi hal itu mungkin menyebabkan kota yang dijuluki Big Apple ini bisa tenggelam.

Jurnal ilmiah Earth’s Future menyebutkan berat kumulatif bangunan di New York City mencapai 1,68 triliun pon menyebabkan tanah kota itu sudah dalam perjalanan menuju tenggelam.

Tenggelam artinya permukaan tanah kota, lebih rendah dari permukaan air laut. Penurunan permukaan tanah rata-rata sekitar satu hingga dua milimeter per tahun.

Tiga orang ahli kelautan Universitas Rhode Island dan seorang peneliti dari Survei Geologi Amerika Serikat mengukur tingkat tenggelamnya Kota New York yang menjadi tempat hidup sekitar 8,4 juta orang.

Para peneliti menciptakan model geografis untuk menunjukkan tekanan ke bawah dari bangunan berat di batuan dasar, tanah liat, pasir dan lumpur di kota tersebut.

Kondisi ini menyebabkan Kota New York menghadapi tantangan besar dari bahaya banjir.

Serta kenaikan permukaan air laut 3 sampai 4 kali lebih tinggi dari rata-rata global di sepanjang pantai Atlantik Amerika Utara.

Jakarta Diprediksi Tenggelam 2050

Nah, bagaimana dengan Jakarta. Jakarta ternyata juga masuk 25 besar kota pemilik gedung pencakar langit terbesar di dunia.

Council on Tall Buildings and Urban Habitat mencatat Jakarta berada di peringkat ke-12.

Jakarta memiliki 160 gedung pencakar langit atau bangunan dengan ketinggian di atas 150 meter dan satu gedung super tinggi atau ketinggian di atas 300 meter.

Besarnya berat hutan beton juga menjadi ancaman bagi Kota Jakarta.

Dalam sebuah penelitiannya, Eddy Hermawan, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyebutkan dengan kondisi saat ini, Jakarta akan tenggelam pada tahun 2050.

Selain beban hutan kota, setidaknya ada dua faktor lain yang menekan permukaan tanah Jakarta hingga jauh ke bawah permukaan laut.

Pertama, kenaikan tinggi muka laut. Kedua, penggunaan air tanah berlebihan hingga mengakibatkan penurunan tanah.

Untuk memperlambat agar Kota Jakarta tidak tenggelam, dia menganjurkan pembangunan kota perlu ditata dengan sangat ketat.

Terutama pendirian bangunan rumah atau area perkantoran harus sesuai dengan peruntukannya.

Selanjutnya, memastikan adanya ruang terbuka hijau untuk paru-paru kota, sekaligus daerah resapan air.

Kemudian, memperketat pengawasan dan pengendalian eksploitasi air tanah dan melarang total penggunaan air tanah.

Bagaimana dengan kota-kota lain di dunia?

Apakah pembangunan kota vertikal masih akan terus dilakukan di tengah acaman kota-kota tersebut akan tenggelam di masa mendatang?*

Email: ernasariulinagirsang@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang

#beritaviral
#beritaterkini

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life

Pagespeed Optimization by Lighthouse.