Home » Mengulik Desa Trunyan Bali Dengan Tradisi Mepasah yang Unik

Mengulik Desa Trunyan Bali Dengan Tradisi Mepasah yang Unik

by Darmailawati
2 minutes read
Tradisi Mepasah di Desa Trunyan Bali Foto Decode

ESENSI.TV - MEDAN

Desa Trunyan Bali dikenal karena tradisi warganya yang melakukan tradisi mepasah, yaitu pemakaman jenazah dengan cara meletakkannya di bawah Pohon Trunyan.

Terletak di tepi Danau Batur, kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Desa Trunyan Bali merupakan salah satu desa tertua yang sangat terkenal di Pulau Dewata.

Nama desa Trunyan Bali ini diambil dari nama pohon Taru Menyan, yang hanya tumbuh di desa tersebut, yang berasal dari kata Taru yang berarti Pohon dan kata Menyan yang berarti Wangi.

Pohon Trunyan adalah pohon yang dapat mengeluarkan aroma yang wangi, yang konon membuat aroma menyan menguar disekitar desa ini.

Bagi masyarakat Indonesia wangi menyanidentik dengan hal-hal mistik yang bikin merinding.

Melansir laman resmi Dinas Pariwisata Bali, masyarakat di sini secara umum didominasi oleh pemeluk agama Hindu yang umumnya melakukan prosesi pemakaman dengan cara kremasi atau pembakaran mayat, yang dikenal dengan istilah ngaben.

Namun, berbeda dengan Desa Trunyan yang melakukan pemakaman dengan cara meletakkan jenazah di bawah pohon Trunyan yang ada di kawasan pemakaman.

Kemudian, jenazah ditutupi dengan selembar kain lalu di pagari anyaman bambu berbentuk prisma yang disebut ancak saji.

Tidak Boleh Lebih Dari 11 Jenazah

Menurut kepercayaan setempat, jumlah jenazah yang dimakamkan di bawah tiap pohon Trunyan jumlahnya tidak boleh lebih dari sebelas jenazah.

Maka dari itu, jika ada jenazah baru, tulang belulang dari jenazah lama akan dipindahkan ke tempat yang telah disediakan.

Baca Juga  Kunjungi Kawasan Wisata Kuliner Kampung Ujung Labuan Bajo, Presiden Jokowi Bagikan Celemek

Setlah  itu barulah jenazah baru dapat diletakkan disitu. Uniknya meskipun banyak jenazah yang diletakkan dan dibiarkan di udara terbuka.

Namun, tidak tercium adanya bau busuk, walaupun pada saat jenazah-jenazah tersebut mengalami proses dekomposisi atau proses pembusukan.

Hal ini konon disebabkan oleh adanya pohon Trunyan yang dapat menyerap bau dari proses dekomposisi jenazah lalu menetralisirnya dan justru menyebarkan aroma wangi ke udara.

Di area pemakaman desa Trunyan, wisatawan akan menyaksikan pemandangan tumpukan tengkorak manusia yang sudah disusun rapi.

Ada juga terlihat barang bekal orang meninggal, seperti pakaian, sandal atau barang kesukaan sewaktu mereka hidup, yang terlihat berserakan.

Di lokasi ini sendiri terdapat tiga jenis pemakaman. Pertama, ada Sema Wayah yang dianggap paling suci. Di sini jenazah akan dimakamkan secara mepasah.

Kemudian, kedua ada Sema Mudi. Bedanya, jenazah di sini akan dikubur. Mayat yang dikubur di Sema Mudi adalah anak-anak dan bayi dengan gigi susu yang belum tanggal.

Terakhir ada Sema Batas. Sama seperti Sema Mudi, jenaza di sini juga akan dikuburkan.

Bedanya, Sema Batas khusus untuk yang meninggal karena kematiannya tidak wajar, seperti kecelakaan, dibunuh, bunuh diri, atau bagian tubuhnya tidak utuh.*

Email: darmailawati@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang

 

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life