Home » Morgan Maze, Anak Down Syndrome yang Berhasil Kuasai Tiga Bahasa dan Pendiri YAPESDI

Morgan Maze, Anak Down Syndrome yang Berhasil Kuasai Tiga Bahasa dan Pendiri YAPESDI

by Junita Ariani
3 minutes read
Morgan Maze, pria berusia 25 tahun ini terlahir sebagai anak Down Syndrome yang menguasai tiga bahasa dan jago memasak.

ESENSI.TV - JAKARTA

Terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus bukanlah keinginan anak dan bukan pula dambaan orangtua. Begitupun anak dengan berkebutuhan khusus juga memiliki hak yang sama dengan anak-anak normal lainnya.

Berhak mendapatkan pendidikan, kasih sayang, dan kesejahteraan.  Banyak anak-anak yang berkebutuhan khusus yang berhasil menoreh prestasi. Baik di bidang olahraga, kesenian, bernyanyi, juru masak dan lain sebagainya.

Anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki talenta layaknya anak normal. Seperti yang dialami Morgan Maze. Pria berusia 25 tahun ini terlahir sebagai anak Down Syndrome.

Yakni, kondisi keterbelakangan mental dan fisik yang dialami seseorang karena perkembangan kromosom yakni kromoson 21 yang tidak normal.

Morgan tinggal di Jakarta bersama ibunya. Ia merupakan duta Down Syndrome International (DSi) sekaligus bagian dari kelompok yang mengadvokasi down syndrome.

Dilansir dari laman BBC News Indonesia, Selasa (2/4/2024), Morgan menceritakan, bahwa ia bekerja sebagai asisten kelas di kelas online mingguan untuk remaja down syndrome.

Dan itu dijalankan oleh organisasinya yang bernama YAPESDI. Yayasan Peduli Sindroma Down Indonesia (YAPESDI) adalah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup para penderita down syndrome.

Ia mewakili teman-temannya sesama orang dengan down syndrome dalam pertemuan organisasi tersebut.

Gemar Memasak

Meski terlahir sebagai anak istimewa, Morgan tenruata memiliki kegemaran memasak. Bahkan ia bekerja dua kali dalam sepekan di restoran sebuah galeri.

“Bekerja di restoran selalu menjadi pekerjaan impian saya karena saya gemar memasak.”

Ia berharap suatu hari nanti memiliki restoran sendiri, dengan menyisihkan uang dari gaji dan pendapatannya demi menggapai impiannya.

Dewi, ibu Morgan selalu berusaha memastikan Morgan sadar dan terlibat dalam aktivitas yang dia lakukan.

Dia mengatakan, beberapa tahun lalu saat membawa putranya bertemu orang-orang dengan down syndrome untuk pertama kalinya, Morgan bertanya padanya mengapa dia bisa berkomunikasi dengan baik? Tapi tidak demikian halnya dengan teman-temannya.

Mereka hanya bergumam dan Morgan hampir tidak mengerti percakapan mereka. Dalam perjalanan pulang, Morgan kembali melontarkan pertanyaan mengapa teman-teman barunya tidak bisa berbicara dengan jelas.

Dia bilang dia ingin punya teman yang sama seperti dirinya, tapi juga ingin memahami mereka. Dia lantas bertanya kepada ibunya apakah dia bisa membantu mereka belajar berbicara.

Itu adalah awal mula Morgan dan sejumlah orang lain memulai organisasi bagi orang-orang dengan down syndrome.

Mendirikan YAPESDI

Dewi mengatakan bahwa dia menemukan seorang donatur, yang memberi mereka dana untuk memulai kelas “Ayo Bicara”, dan kemudian mendirikan YAPESDI.

Baca Juga  Puncak Mudik, 848.344 Penumpang Gunakan Kereta Api Jarak Jauh

Morgan mengulas teks yang ditujukan untuk orang-orang dengan ketidakmampuan belajar

Morgan juga mengulas artikel teks untuk penyandang down syndrome, yang ditulis dalam ‘Easy Language’, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan penyandang disabilitas intelektual.

Bahasa tersebut menggabungkan kata-kata yang sederhana untuk dipahami.

“Sampai saat ini, saya satu-satunya penyandang down syndrome atau disabilitas intelektual yang dapat melakukan peer review dalam Easy Language atau [sebagai] reviewer Easy Read.”

Buku-buku yang ditinjaunya bukan hanya yang diterbitkan organisasinya, tetapi organisasi lain juga meminta Morgan untuk meninjau laporan Easy Read mereka.

“Faktanya, saat ini saya sedang meninjau laporan survei tentang Hak-Hak [Orang] dengan down syndrome dalam Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Ketenagakerjaan, dan Layanan Perbankan,” kata Morgan.

Kesulitan Mencari Pekerjaan

Morgan menceritakan, di Indonesia, kebanyakan orang dewasa dengan down syndrome tidak bekerja. Perusahaan menolak untuk mempekerjakan mereka atau takut mempekerjakan karena tidak terlatih untuk bekerja.

Hal itu memang benar, namun beberapa perusahaan kecil menawarkan pekerjaan kepada penyandang disabilitas. Sayangnya, banyak yang mengatakan sulitnya mendapatkan pekerjaan dan menghadapi diskriminasi ketika melamar pekerjaan.

“Tidak ada sekolah atau sekolah kejuruan yang siap mengajari kami cara bekerja.”

“Hanya karena ibu saya dan… teman-temannya yang berjuang keras untuk saya dan melatih saya, maka sekarang saya bisa mempunyai pekerjaan atau proyek yang layak untuk dikerjakan,” tambah Morgan.

Terdapat beberapa sekolah khusus untuk penyandang disabilitas – namun hingga kini belum ada sekolah kejuruan khusus bagi penyandang disabilitas.

Ada juga beberapa asosiasi down syndrome yang memberikan pelatihan administrasi sederhana untuk pekerjaan kantor – namun itu terbatas dan tidak tersedia di seluruh Indonesia.

Sebagai seorang yang mengadvokasi diri sendiri, Morgan telah diundang untuk berbicara di banyak seminar, workshop atau acara di tingkat lokal dan internasional. Ia menguasai tiga bahasa: Indonesia, Prancis, dan Inggris.

“Tetapi masyarakat di sini masih mempunyai stereotipe negatif terhadap kami. Pemerintah tidak berbuat banyak untuk kami.”

Morgan mengatakan dia menikmati aktivitas lain di luar pekerjaan:

“Selain bekerja dan bekerja keras saya juga menyukai dan bermain musik, suka bepergian, menonton film di akhir pekan, dan pergi ke bioskop. Film terakhir yang saya tonton di bioskop adalah Kung Fu Panda 4. Saya harap teman-teman semua bisa berbahagia seperti saya bahagia dengan hidup saya.” *

#beritaviral
#beritaterkini

Email : junitaariani@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life