Home » Pidato Bung Karno

Pidato Bung Karno

by Administrator Esensi
3 minutes read
Pancasila.

ESENSI.TV - JAKARTA

Bung Karno pernah bertanya kepada Presiden Yugoslavia, Josef Broz Tito, kurang lebih sebagai berikut:
“Tuan Tito, jika anda meninggal nanti, bagaimana nasib bangsa anda?”

Dengan bangga, Tito berkata,
“Aku memiliki tentara-tentara yang berani dan tangguh untuk melindungi bangsa kami.”

Setelah menjawab pertanyaan ini, Tito ternyata gantian bertanya,
“Lalu bagaimana dengan negara anda, sahabatku?”

Dengan tenang Bung Karno berkata,
“Aku tidak khawatir, karena aku telah meninggali bangsaku dengan sebuah way of life, yaitu Pancasila.

Menurut para ahli sejarah di Serbia, di antara Indonesia dan Yugoslavia, yang paling berkemungkinan pecah atau mengalami disintegrasi seharusnya Indonesia.

Alasannya, Yugoslavia lebih beruntung dibandingkan Indonesia, karena wilayahnya tidak terpisah-pisah dan tidak beretnis sebanyak Indonesia.

Namun, pada akhirnya, bangsa Yugoslavia pecah menjadi 7 (tujuh) negara-negara kecil seperti Serbia, Kroasia, Bosnia, Slovenia, Montenegro, Kosovo dan Makedonia.

Ternyata, menurut mereka, bangsa Indonesia lebih beruntung karena memiliki pegangan hidup Pancasila yang menyatukan penduduknya yang terdiri atas berbagai suku/golongan dan memeluk berbagai agama dan kepercayaan.

“Aku tidak mengatakan aku yang menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami tradisi-tradisi kami sendiri dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah”.

Jika kamu kehilangan uang, kamu bisa mencarinya lagi esok.  Tapi kalau kamu kehilangan Negrimu, kamu tak bisa mencarinya lagi. Kehilangan negrimu,  kehilangan Tanah Airmu, sama saja dengan kehilangan dirimu sendiri.

Sebab napasmu ada disana, darahmu ada disana, keringatmu ada disana.

SEJARAHmu ada disana maka JAGALAH negrimu INDONESIA.

Tulisan ini adalah bentuk junjung tinggi kepada Pancasila. Gus Nas, seorang penulis puisi pun turut menulis sebagai bentuk junjung tingginya kepada Pancasila.

Profil Penulis Gus Nas

Nasruddin Anshoriy atau biasa disebut Gus Nas Jogja  adalah seorang budayawan yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Ilmu Giri Yogyakarta. Selain kiyai dia juga seorang penulis dan pelukis.

Gus Nas banyak dikenal oleh tokoh-tokoh nasional di negeri ini. Tidak hanya artis, politisi, pengusaha, maupun seniman mengenalinya. Dia banyak mengoleksi lukisan-lukisan langka dari para maestro.

Gus Nas telah menorehkan banyak sekali karya-karya yang menarik dalam bait-bait puisi. Beberapa diantaranya seperti Tong Kosong Reformasi, Semesta Bertakbir, Air Mata Sudan, dan beberapa karya lainnya.

Baca Juga  Gus Nas: Balada Kemerdekaan

Presiden Ke-4 Republik Indonesia, Gus Dur bahkan memujinya dan berkata bahwa ia adalah seorang multi talenta. Hal ini dikarenakan bakat alami yang dimilikinya.

Berikut adalah tulisan Gus Nas tentang Pancasila.

Pidato Bung Karno

Apa yang bisa kita petik dari api?
Ketika nyala dan nyali mengibarkan merah-putih baginda Ibu Pertiwi

Sesudah Ki Hadjar Dewantara menyalakan Panca Dharma
Langit biru Indonesia Raya kembali bernyali

Dasar negara yang sesungguhnya bukanlah dogma dan retorika
Hafalan Pancasila hingga di luar kepala

Ia adalah philosophische grondslag yang mengakar pada nalar anak-anak bangsa
Ia adalah weltanschauung yang membentangkan cakrawala pada zamrud khatulistiwa
Dasar filsafat dan pandnagan hidup ratusan suku bangsa dan pemeluk agama yang berbeda-beda
Hasrat sedalam-dalamnya untuk gotong-royong mendirikan negara merdeka

Dari Gang Panele di Surabaya aku membaca
Ketika HOS Tjikroaminoto membakar pikiran Bung Karno dengan gegap-gempita orasi kebangsaan dan rasa cinta ada Daulat bangsa

Tak ada Soepomo dan Muhammad Yamin di sana kala itu
Tapi Musso dan Kartosuwiryo yang menjadi saksi bahwa jejak Proklamator itu bermula di sini

Apa yang hendak kalian saksikan di masa paceklik itu?

Ketika Belanda dan Jepang silihberganti merampok negeri ini
Saat Bung Karno diasingkan ke Pulau Ende
Atau lebih tepatnya dibuang ditempat terpencil karena pidatonya sungguh-sungguh memekakkan telinga

Empat tahun dalam terkaman kesunyian
Di bawah pohon sukun ia temukan lima fatwa untuk memperisai bangsa

14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1838 itulah Bung Karno merenung
Lalu menggali jati diri agar jihad para pejuang di masa lalu tak Cuma berbuah sia-sia

Dari dalam tanah Ibu Pertiwi ini harta karun Bernama Pancasila ditemukan
Dalam darah-daging Sutasoma dan Rahim Panca Dharma itulah Pancasila bermula

Simaklah Kembali pidato Bung Karno
Petikkan apinya
Nyalakan kembali geloranya
Gelombang panas cita-cita untuk merdeka

Pancasila adalah nyala api
Pancasila adalah nyali bagi tegaknya Kemanusiaan yang Adil an Beradab
Nyali bagi terjaganya Persatuan Indonesia
Nyali bagi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Gus Nas Jogja, 1 Juni 2023

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life