Home » Sungai Ruki di Kongo, Sungai Paling Gelap dan Hitam di Dunia

Sungai Ruki di Kongo, Sungai Paling Gelap dan Hitam di Dunia

by Erna Sari Ulina Girsang
1 minutes read
Sungai Ruki, anak sungai Kongo, menjadi sungai paling hitam dan gelap di dunia. Foto: Oddity Central/Matti Barthel/ETH Zurich

ESENSI.TV - JAKARTA

Ruki, anak sungai Kongo, baru-baru ini dijuluki sebagai sungai paling gelap di dunia, dengan air yang sangat gelap sampai kamu bahkan tidak dapat melihat wajahmu ketika berhadapan dengan air sungai.

Dalam studi ilmiah pertama terhadap sungai Afrika, para ilmuwan menyimpulkan bahwa air berwarna hitam gelap disebabkan oleh tingginya kadar bahan organik terlarut dari hutan hujan di sekitarnya.

Para ilmuwan menemukan bahwa warna tersebut disebabkan oleh senyawa kaya karbon yang terlarut dari sisa tanaman yang membusuk dan terbawa ke Sungai Ruki oleh air hujan dan banjir.

Tanaman Kaya Karbon

Dr Travis Drake, penulis utama studi yang diterbitkan baru-baru ini, mengatakan bahwa Ruki pada dasarnya adalah teh hutan yang diseduh dari tanaman kaya karbon.

“Warna air yang dihasilkan membuat Ruki lebih gelap dibandingkan Rio Negro,” jelas Travis Drake, seperti dilansir dari Oddity Central, Minggu (22/10/2023).

“Senyawa organik yang terlarut dari vegetasi ini menyerap cahaya, jadi semakin tinggi konsentrasinya, air akan tampak semakin gelap,” kata Dr. Drake.

Baca Juga  Wamenparekraf Dukung Komik di Indonesia

“Ini seperti menyeduh teh dengan konsentrasi ekstra menggunakan banyak kantong teh.”

Dengan menggunakan sistem pengukuran, tim ilmuwan ETH Zurich, di Swiss, menemukan bahwa Ruki 1,5 kali lebih gelap daripada Rio Negro di Amazon, sungai blackwater dunia.

Dia mengemukakan meskipun Ruki hanya menempati seperdua puluh dari Cekungan Kongo, hal ini memberikan seperlima dari seluruh karbon terlarut di Kongo.

“Sungai Ruki adalah salah satu sistem sungai yang paling kaya DOC di dunia,” kata Matti Barthel, salah satu penulis studi tersebut.

Perairannya mengandung senyawa karbon organik empat kali lebih banyak dibandingkan di Kongo dan 1,5 kali lebih banyak dibandingkan di Rio Negro di Amazon.

“Kami terpesona oleh warna sungainya,” sambung peneliti ETH Zurich, Travis Drake.*

Email: ernasariulinagirsang@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H Napitupulu

#beritaviral
#beritaterkini

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life