Home » Tata Kelola Liberal: di Tengah Persimpangan Tata Kelola Dunia Baru Indonesia

Tata Kelola Liberal: di Tengah Persimpangan Tata Kelola Dunia Baru Indonesia

by fara dama
2 minutes read
Presiden Jokowi memimpin Sesi 4 KTT Perayaan 50 Tahun Hubungan Persahabatan dan Kerja Sama ASEAN-Jepang di Hotel The Okura, Tokyo, Jepang, Minggu (17/12/2023). 

ESENSI.TV - JAKARTA

Dengan paradigma pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi atau GDP Oriented.  Indonesia saat ini berada dalam keadaan middle income trap terjadi trickle-up. Dimana sumber daya dan hasil pembangunannya mengalir dari daerah atau pedesaan ke kota-kota besar.

Hal ini disampaikan Guru Besar Universitas Paramadina Prof. Didin S. Damanhuri dalam diskusi bertajuk “Kontestasi Tata Kelola Liberal dan Keamanan: Kemanusiaan di Tengah Persimpangan Tata Kelola Dunia Baru” sebagai rangkaian Dies Natalis yang diselenggarakan Rabu (20/12/2023) di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina.

Diskusi yang membahas evaluasi dan proyeksi kebijakan luar negeri dan diplomasi pasca pemilu ini dimoderatori oleh Dr. Phil Shiskha Prabawaningtyas.

Menurutnya ketimpangan ekonomi yang diukur melalui rasio Gini pengeluaran menunjukkan perubahan yang berbeda di area perkotaan dan perdesaan.

“Di perkotaan, rasio Gini mengalami peningkatan dari 2014 hingga 2019, kemudian meningkat lagi dari 2020 hingga 2023. Sementara, di perdesaan terjadi penurunan pada 2012-2014, peningkatan pada 2015 dan 2018, dan penurunan lagi dari 2019-2023. Interpretasi perubahan rasio Gini ini penting dalam konteks kebijakan ekonomi dan perbandingan antara perkotaan dan perdesaan dalam hal ketimpangan.” Kata Didin.

Ia menekankan bahwa langkah utama perubahan adalah orientasi pembangunan harus lebih inklusif. Selanjutnya, berkeadilan sosial dalam paradigma pembangunan dan memperbaiki kelembagaan institusi sosial-ekonomi seperti BULOG, KPPU dan KPK.

“Dengan tujuan mengurangi ketimpangan serta menciptakan pasar yang lebih sehat. Sehingga high cost politik yang sangat tinggi membuat Indonesia harus membayar akan itu semua.”

Ahmad Khoirul Umam , Ph.D., Dosen Paramadina Graduate School of Diplomacy melihat bahwa Cina memiliki penciptaan image yang sangat tinggi saat pemerintahan presiden Joko Widodo.

“Ada situasi yang harus diantisipasi, karena mengalami dependensi yang terlalu tinggi terhadap cina. Pasca situasi pandemi, cina mengalami penurunan perekonomian sebanyak 1%, dan memberikan sampai 0,06% ke Indonesia” ungkap Umam.

Baca Juga  Politik Myanmar, Masa Depan Demokratisasi dan Regionalisme Kawasan Asia Tenggara

Perdagangan Indonesia dan Isu Palestina

Umam menyatakan bahwa perdagangan Indonesia – Cina didominasi oleh CPO, Batubara, Logam.

“Banyak TKA Cina bekerja di Indonesia, di dalam lokasi kerjanya pun dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Termasuk rumah sakit, dan perkantoran, baik legal maupun ilegal, pasar dari Nikel, Logam, Batu Bara yang dihasilkan dari Indonesia adalah sama” tambahnya.

Narasumber lainnya Dr. Mohammad Riza Widyarsa. M.Si., melihat dari sudut pandang negara di timur tengah. Banyak yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bahkan pada saat itu Irak dan Mesir yang belum merdeka dan masih di bawah kepemimpinan Inggris terus menyuarakan isu Indonesia di PBB.

Pada era presiden Soekarno, kerap menyerukan tentang keharusan memperjuangkan Palestina dan membela Mesir pada konflik Suez pada tahun 1956. Tak jauh berbeda pada era presiden Joko Widodo untuk tetap konsisten menyerukan isu Palestina.

“Presiden Jokowi berkecenderungan meneruskan program pendidikan dan capacity building bagi warga Palestina. Program yang sebelumnya sudah diserukan pada era presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan pada tahun 2023, OKI menunjuk presiden Joko Widodo sebagai presiden Indonesia untuk menyampaikan gencatan senjata terkait dengan konflik Gaza ke Joe Biden” kata Riza.

“Adapun proyeksi pasca pilpres 2024 yaitu tetap memperjuangkan kemerdekaan Palestina, proyek investasi akan diteruskan, hubungan ekonomi terus dipertahankan, harus membuat neraca perdagangan surplus dengan negara-negara di Timur Tengah, dan harus memaksimalkan potensi ekonomi di Afrika Utara dan Iran” tambahnya.

Editor: Dimas Adi Putra/Addinda Zen

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life