Home » Batik, Simbol Perjuangan Perempuan Indonesia

Batik, Simbol Perjuangan Perempuan Indonesia

by Administrator Esensi
2 minutes read
Menteri PPPA Apresiasi Batik Sebagai Simbol Pergerakan Perempuan Indonesia

ESENSI.TV - JAKARTA

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Bintang Puspayoga mengapresiasi batik buatan perempuan sebagai budaya yang merefleksikan kisah-kisah perjuangan perempuan. Menteri PPPA menyampaikan batik tidak hanya sebagai sarana penggerak ekonomi perempuan. Melainkan juga menjadi simbol atas pergerakan perempuan.

“50 persen UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) Indonesia dikelola dan dimiliki oleh perempuan. Peran UMKM sendiri sangat luar biasa bagi perekonomian nasional dan mengisi 99 persen dari total bisnis yang ada di Indonesia. UMKM juga berkontribusi besar terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) dan penyerapan tenaga kerja. Salah satu bidang yang paling banyak ditekuni oleh pengrajin dan pengusaha UMKM perempuan di Indonesia adalah fashion batik,” kata Menteri PPPA pada acara Pameran Luring “Membatik Ketangguhan: Batik Saparinah” (22/5).

Motif Batik Refleksikan Perjuangan Ibu Bangsa

Menteri PPPA menyampaikan fashion batik tidak hanya bicara mengenai wastra (kain tradisional). Motif-motif batik yang tertuang dalam sebuah kain memiliki banyak cerita dan merefleksikan perjuangan ibu bangsa yang dibalut dalam kerangka budaya.

“Selain indah, motif-motif batik biasanya mengandung arti berupa identitas, sejarah, bahkan semangat perjuangan seorang tokoh. Hal ini sejalan dengan bagaimana Batik Saparinah diciptakan, yakni berdasarkan refleksi Ibu Saparinah Sadli mengenai perjalanan hidupnya yang bertaut dengan berbagai persoalan kebangsaan, terutama kekerasan berbasis gender terhadap perempuan,” tutur Menteri PPPA.

Ibu Saparinah, Sang Inspirasi Batik Bagi Perempuan

Menteri PPPA menyampaikan perjuangan Ibu Saparinah dalam mendorong pemenuhan hak perempuan bukan hanya pada tataran wacana. Ibu Saparinah selalu berusaha memasukkan pengalaman perempuan yang beragam. Seperti perbedaan status sosial, agama, dan etnis ke dalam motif batiknya. Salah satunya adalah motif batik sembilan burung hong dan anggrek bulan.

Baca Juga  Penerimaan Seleksi bagi 2,3 Juta Formasi CASN Dilakukan Tiga Periode, Dimulai Maret

“Ibu Saparinah yang menjadi inspirasi dari motif batik yang kita lihat hari ini adalah sosok nyata dari perempuan Indonesia yang tangguh. Ia tidak hanya hidup untuk memperjuangkan dirinya. Namun juga memperjuangkan kaum perempuan dari berbagai belenggu yang masih mengikat mereka. Cerita ketangguhan-ketangguhan ini yang saya harap juga bisa kita ingat ketika memakai batik, sekaligus menjadi penyemangat kita untuk turut menjadi sosok yang tangguh, peduli dengan permasalahan-permasalahan perempuan, dan membawa kesejahteraan dan kemajuan bagi perempuan di Indonesia,” jelas Menteri PPPA.

Kain Batik untuk Ekspresikan Diri

Aktivis Hak Asasi Manusia, Kamala Chandrakirana menyampaikan Batik Saparinah diluncurkan pada 22 Desember 2022. Bersamaan dengan peringatan pergerakan perempuan yang dimulai dengan Kongres Perempuan pertama pada 1928. Menurutnya, batik dianggap sebagai kain yang dekat dengan keseharian perempuan dan kerap digunakan untuk mengekspresikan diri.

“Apa yang berusaha kami ekspresikan melalui kain batik adalah perjuangan Ibu Saparinah dalam menghadapi pasang surut dan getirnya pergerakan perempuan untuk membela martabat dan kehidupan sesama perempuan. Kain Batik Saparinah berusaha untuk menjiwai dan merawat semangat juang dari sesama kawan-kawan perempuan seperjuangan. Agar kita bisa terus maju di tengah tantangan yang bertubi,” ungkap Kamala.

Kurator Pameran “Membatik Ketangguhan: Batik Saparinah”, William Kwan Hwie Long menambahkan kain Batik Saparinah memiliki motif sembilan burung hong dan anggrek bulan. Motif ini melambangkan ketangguhan, keuletan, kecerdasan, dan juga semangat perempuan.

 

Editor: Nabila Tias Novrianda/Addinda Zen

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life