Home » Kemenperin Sebut Indonesia Miliki Potensi Kembangkan Industri Gula di Lahan Rawa

Kemenperin Sebut Indonesia Miliki Potensi Kembangkan Industri Gula di Lahan Rawa

by Junita Ariani
2 minutes read
Berdasarkan data BUMN Pangan, ID Food, produksi gula dalam negeri hanya mampu mencapai 2,4 juta ton.

Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan perkebunan tebu di lahan rawa. Hal ini mengingat luas lahan rawa yang dimiliki Indonesia berkisar 21 juta hektare,

Dengan area bisa ditanami atau bisa diolah sekitar 8-10 juta hektare. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan gula nasional, dibutuhkan lahan rawa seluas 1 juta hektare untuk penanaman tebu

Karena itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengapresiasi perkebunan tebu yang dikembangkan PT Pratama Nusantara Sakti (PT PNS0.

Perkebunan yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan ini menjadi perkebunan pertama di Indonesia yang berada di lahan rawa.

“Perusahaan ini sudah mengembangkan perkebunan tebu di lahan rawa sejak tahun 2009,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika di Jakarta, Kamis (18/5/2023).

PT PNS kata Putu, melakukan penanaman tebu pertama kali pada tahun 2013. Dan, sampai tahun 2022 telah menanam seluas 11.400 hektare. Termasuk program kemitraan seluas 211 hektare yang melibatkan tidak kurang 133 Kepala Keluarga.

“Tanaman tebu di lahan rawa ternyata di atas rata-rata produktivitas tanaman tebu nasional, yaitu mencapai 100 ton per hektare,” ujar Putu.

Dikatakannya, PT PNS telah menyelesaikan pembangunan pabrik gula dengan kapasitas 6.000 ton cane per day (TCD) dan melakukan commissioning pada tahun 2020.

HPP Gula Tinggi

Produksi gula secara komersial dari tanaman tebu dimulai tahun 2021. PT PNS telah siap menambah investasi untuk meningkatkan kapasitas giling menjadi 12.000 TCD. Dengan upaya-upaya pembukaan lahan baru dan pengembangan kemitraan penanaman tebu menjadi 25.000 hektare,

Baca Juga  November 2023, Posisi Utang Luar Negeri Indonesia Capai USD400,9 Miliar

“PT PNS adalah perusahaan pionir yang telah menyulap pemanfaatan lahan rawa menjadi perkebunan tebu produktif di Indonesia. Di mana PT PNS telah berhasil melakukan alih fungsi lahan rawa (lahan marjinal) yang tidak produktif menjadi lahan produktif untuk penanaman tebu,” papar Putu.

Direktur Operasional PT PNS, Deni Gunawan, mengatakan, usaha pemanfaatan lahan rawa sebagai lahan produksi gula tebu masih menghadapi beberapa kendala. Hal itu menyebabkan Harga Pokok Produksi (HPP) gula menjadi tinggi.

Seperti biaya transportasi yang tinggi untuk transportasi sarana dan prasarana meliputi alat, pupuk, dan batu bara. Selain itu, kesulitan mendapatkan tenaga kerja perkebunan baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

“Juga kesulitan untuk melakukan mekanisasi pertanian dikarenakan jenis tanah marine clay yang sulit untuk mobilisasi mesin dan peralatan,” jelas Deni.

Sementara it,  Direktur Pendukung Bisnis PT PNS, Isman Hariyanto membenarkan sarana transportasi menjadi salah satu penunjang utama dalam meningkatkan daya saing produk gula PT PNS.

Saat ini, kata dia, akses menuju Tol Kayu Agung dari Dusun Waduk Gajah Mati, luar area PT PNS sekitar 225 Km. Di mana sebagian besar telah dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Pemerintah Kabupaten OKI.

“Diharapkan pembangunan sisa jalan dapat dilanjutkan untuk meningkatkan akses dan kemudahan transportasi baik untuk masyarakat dan industri,” ungkap Isman. *

#beritaviral
#beritaterkini

Email : junitaariani@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life