Home » Setetes Air Tafakur dalam Sajadah Tujuh Samudera

Setetes Air Tafakur dalam Sajadah Tujuh Samudera

by Raja H. Napitupulu
3 minutes read
WWF

ESENSI.TV - JAKARTA

Air, sumber kehidupan, mengalir bagaikan benang sutra yang menghubungkan seluruh penjuru dunia. Bagaikan setetes air yang menetes di sajadah, ia membawa pesan tafakur tentang kelestarian dan rasa syukur atas anugerah Ilahi.

Di tengah gempuran perubahan iklim dan kelangkaan air, World Water Forum hadir sebagai ruang dialog dan aksi untuk menyelamatkan masa depan air.

Esei ini merupakan perenungan atas makna air dalam kehidupan manusia dan pentingnya menjaga kelestariannya.

Air: Simbol Kehidupan dan Kesucian

Sejak awal peradaban, air telah menjadi simbol kehidupan dan kesucian. Dalam berbagai budaya dan agama, air dihormati sebagai sumber penciptaan, pemurnian, dan kekuatan spiritual.

Dalam Islam, air memiliki makna suci dan digunakan dalam berbagai ritual keagamaan, seperti wudhu dan mandi besar.

Air Zamzam, yang mengalir dari tanah suci Mekkah, diyakini memiliki khasiat penyembuhan dan membawa berkah.

Ancaman terhadap Sumber Daya Air

Di era modern, sumber daya air semakin terancam oleh berbagai faktor, seperti pencemaran, eksploitasi berlebihan, dan perubahan iklim. Pencemaran air akibat limbah industri dan rumah tangga telah merusak ekosistem dan membahayakan kesehatan manusia.

Eksploitasi berlebihan air tanah untuk keperluan industri dan pertanian telah menyebabkan penurunan permukaan air tanah dan kekeringan.

Perubahan iklim, dengan pola curah hujan yang tidak menentu dan peningkatan suhu global, memperburuk situasi dan memicu kekeringan di berbagai wilayah.

Pentingnya Menjaga Kelestarian Air

Menjaga kelestarian air adalah tanggung jawab bersama. Kita perlu melakukan berbagai upaya untuk melindungi sumber daya air.

Pertama, mengurangi pencemaran air: Dengan mengolah limbah dengan benar, menggunakan produk ramah lingkungan, dan menghindari pembuangan sampah sembarangan ke sungai dan laut.

Kedua, menghemat air: Dengan menggunakan air secara bijaksana, seperti mandi seperlunya. Mematikan keran saat tidak digunakan, dan memperbaiki kebocoran air.

Ketiga, melestarikan hutan: Hutan berperan penting dalam menjaga kelestarian air tanah dan mengatur siklus air. Kita perlu menjaga hutan dengan tidak melakukan penebangan liar dan melakukan reboisasi.

Keempat, menggunakan teknologi: Teknologi inovatif dapat membantu dalam pengelolaan air yang lebih efisien. Seperti sistem irigasi tetes dan teknologi desalinasi air laut.

World Water Forum: Ruang Dialog dan Aksi

World Water Forum merupakan platform penting bagi para pemangku kepentingan untuk berdialog dan merumuskan solusi untuk mengatasi krisis air.

Forum ini menghadirkan para pemimpin dunia, pakar air, aktivis lingkungan, dan masyarakat sipil untuk membahas berbagai isu terkait air. Pertama, ketahanan air. Bagaimana memastikan akses air bersih dan aman bagi semua orang, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan.

Kedua, pengelolaan air yang berkelanjutan. Bagaimana mengelola sumber daya air secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga  Esensi Hari Buruh Bagi Gen Z

Ketiga, kerjasama internasional. Bagaimana meningkatkan kerjasama antar negara dalam mengatasi krisis air dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Setetes air tafakur dalam sajadah tujuh samudera mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga kelestarian air. World Water Forum menjadi ruang dialog dan aksi untuk menyelamatkan masa depan air.

Marilah kita bersama-sama berkomitmen untuk melindungi sumber daya air dan memastikan akses air bersih dan aman bagi semua orang.

Makna Teologis dan Kontemplatif Air

Di tengah hiruk pikuk peradaban modern, di mana air menjadi komoditas yang semakin langka dan berharga, World Water Forum hadir sebagai oase perenungan kolektif.

Forum ini menjadi wadah bagi para pemikir, pemimpin, dan aktivis dari seluruh dunia. Utamanya untuk berkumpul dan mendiskusikan berbagai isu krusial terkait air.

Di antara sekian banyak pembahasan yang akan terlaksana di World Water Forum, esai ini ingin mengajak para pembaca untuk menyelami makna dan esensi air melalui lensa tafakur.

Air bukan hanya materi cair yang menopang kehidupan, tetapi juga simbol spiritual yang kaya akan makna.

Setetes air, bagaikan butiran tasbih, mengantarkan kita pada renungan tentang kebesaran Sang Pencipta. Kejernihannya mencerminkan kesucian jiwa, dan alirannya yang tak henti-hentinya mengingatkan kita akan siklus kehidupan yang abadi.

Sajadah tujuh samudera, membentang luas tak terkira, menjadi sajadah raksasa tempat kita bersujud dalam ketakjuban dan rasa syukur. Di hadapan keagungan alam ini, kita diingatkan akan keterbatasan diri dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Air adalah sumber kehidupan, pembawa berkah, dan penawar dahaga. Namun, air juga bisa menjadi kekuatan destruktif, membawa bencana dan kerusakan. Manusia, sebagai pengelola air, harus senantiasa sadar akan tanggung jawabnya untuk menjaga dan memanfaatkan air dengan bijak.

Kegiatan WWF

World Water Forum (WWF) menjadi momen penting untuk mempertanyakan kembali hubungan manusia dengan air. Kita perlu mentransformasi cara pandang kita. Dari melihat air sebagai komoditas semata, menjadi memandangnya sebagai rahmat Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan.

Marilah kita jadikan World Water Forum sebagai momen untuk merenungkan kembali makna air dalam kehidupan. Biarlah setetes air tafakur dalam sajadah tujuh samudera ini menjadi pemandu langkah kita. Utamanya menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan harmonis dengan alam.

Berikut beberapa pertanyaan untuk merenungkan. Apa makna air bagi kita secara pribadi? Bagaimana hubungan manusia dengan air selama ini? Apa yang dapat kita lakukan untuk menjaga dan melestarikan air? Bagaimana World Water Forum dapat membantu mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan?

Semoga esai ini dapat menginspirasi kita semua untuk mendalami makna air dan berkontribusi pada upaya pelestariannya.

 

Penulis: Gus Nas (Budayawan)

Editor: Raja H. Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life