Home » Buku Ini Wajib Kamu Baca, Judulnya “Jalan Tengah Golongan Karya: Mengutamakan Persatuan dan Kesatuan Demi Kemajuan Bangsa

Buku Ini Wajib Kamu Baca, Judulnya “Jalan Tengah Golongan Karya: Mengutamakan Persatuan dan Kesatuan Demi Kemajuan Bangsa

by Erna Sari Ulina Girsang
3 minutes read
Politisi Golkar Erwin Aksa sedang memaparkan isi buku berjudul “Jalan Tengah Golongan Karya: Mengutamakan Persatuan dan Kesatuan Demi Kemajuan Bangsa, sebagai rangkaian kegiatan Executive Education Program for Young Political Leaders, batch 15, Golkar Institute, di Jakarta, Senin (26/2/2024). Foto: Ist

ESENSI.TV - JAKARTA

Golkar Institue menggelar acara Launching dan Bedah Buku. Judulnya “Jalan Tengah Golongan Karya: Mengutamakan Persatuan dan Kesatuan Demi Kemajuan Bangsa. Sebagai rangkaian kegiatan Executive Education Program for Young Political Leaders, batch 15, Golkar Institute, di Jakarta, Senin (26/2/2024).

Buku ini ditulis oleh dua politisi Golkar, yaitu Erwin Aksa dan Sharif Cicip Sutardjo. Acara peluncuran buku dihadiri oleh reviewer buku Prof Siti Zuhro dan Rocky Gerung, dan jajaran DPP Partai Golkar. Termasuk Ketua Umum DPP Partai Golkar sekaligus Ketua Dewan Pembina Golkar Institute Airlangga Hartarto. Juga sejumlah jajaran DPP dan DPD Golkar.

Erwin Aksa mengatakan buku ini mengulas tentang bagaimana Golkar lahir dan hingga saat ini menjadi partai yang fokus berkarya. Partai yang memiliki ideologi kesejahteraan, bukan ideologi “isme-isme” yang ekstrim.

“Orang-orang yang sibuk bekerja dan menghasilkan karya, tidak punya waktu untuk menganut ideologi yang ekstrim,” tegasnya.

Dia menjelaskan para Golongan Karya sibuk membahas kebijakan publik dan sistem pemerintahan yang paling efektif dan efisien. Kader partai sibuk memastikan implementasi program-program berjalan dengan baik, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Agar bisa fokus dengan hal-hal tersebut, Golongan Karya tidak berjalan di kiri, maupun di kanan. Kita berjalan di “tengah”. Kita ambil jalan yang lurus, yang stabil, yang sejuk dan tidak ekstrim, kita ambil jalan yang tujuannya adalah kesejahteraan bersama,” terangnya.

Berjalan di Tengah

Tentunya dengan berjalan di “tengah”, Erwin Aksa menegaskan Golkar bisa mengambil nilai-nilai baik yang ada di sisi kiri dan kanan. Contohnya dari sosialisme, dapat diambil pemihakan terhadap kelompok miskin dan rentan untuk memastikan mereka mendapatkan pelayanan publik yang baik.

“Kita juga bisa ambil nilai-nilai baik yang ada di sisi kanan. Contohnya, dari kapitalisme, kita ambil semangat inovasi, semangat usaha, semangat pantang menyerah dan meritokrasi. Di satu pihak, kita junjung tinggi nilai-nilai moralitas yang berbasis ketuhanan,” sambung Erwin Aksa.

Di pihak lain, ujarnya, Partai Golkar juga menghormati hak-hak asasi manusia dan kesempatan yang adil bagi semua orang, termasuk kaum minoritas.

Berada di jalan tengah, tambahnya, menjadikan Golkar sebagai partai inklusif, terbuka untuk semua hal yang baik dan tidak ekstrim. Golar mengambil “the best of both worlds”, dan meninggalkan hal-hal yang ekstrim dari ideologi-ideologi tersebut.

Baca Juga  Erwin Aksa: Halalbihalal Golkar Bukti Semangat Pemersatu Bangsa

Inilah juga, ujarnya, yang dianut sebagai visi dari presiden dan wakil presiden terpilih, yaitu Pak Prabowo Subianto dan Mas Gibran Rakabuming Raka: Yaitu Ekonomi Pancasila. Ekonomi tengah. Ini juga termasuk yang kita tulis di buku ini.

Lebih jauh, Erwin Aksa mengatakan ide awal menulis buku ini datang dari Sharif Cicip Sutardjo yang kemudian ditindaklanjutinya.

“Dalam proses penulisannya, saya banyak berdiskusi dengan Pak Cicip, Pak Airlangga Hartato, Pak Ace Hasan Syadzily, Pak Rizal Mallarangeng, dan banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu,” jelasnya.

Civil Society

Dia juga berdiskusi dengan civil society, para peneliti dan aktivis dari universitas dan lembaga penelitian, yang mendalami apa itu Golongan Karya (Golkar).

“Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk menulis buku ini bersama Pak Cicip, dan menyampaikan sumbangsih kecil ini bagi Partai Golkar dan bagi bangsa Indonesia. Terima kasih Pak Airlangga dan Pak Ace untuk dukungannya, kita bisa luncurkan buku ini di acara pelatihan Golkar Institute,” terang Erwin.

Selai mengulas sisi ideologi, dia mengatakan buku ini juga memuat soal sejarah Golongan Karya yang awalnya adalah “sekretariat bersama” dari organisasi-organisasi masyarakat yang fokus mengangkat kesejahteraan anggota-anggotanya, baik itu petani, buruh, koperasi, pemuda, pelajar dan lain-lain.

“Mereka inilah golongan-golongan fungsional yang kemudian membentuk “sekber”. Dalam bahasa hari ini, bisa dikatakan Golkar adalah Federasi NGO, yang terdiri dari asosiasi profesi, asosiasi pengusaha, dan asosiasi kelompok kepentingan,” paparnya.

Generasi muda, menurutnya, perlu memahami bahwa Golkar memang pada awalnya adalah sekelompok atau se-“golongan” orang-orang yang berorientasi pada kesejahteraan, bukan berorientasi pada ideologi.

“Punya ideologi tentu bagus. Tapi seringkali debat ideologi tidak selesai-selesai. Inilah yang dikritik oleh Presiden Sukarno di akhir tahun 1950an. Partai politik isinya debat ideologi melulu, siapa yang mau kerja?,” ujar Erwin Aksa.

Email: ernasariulinagirsang@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life