Home » Kamu Penganut Vegan? Coba Nih Hasil Riset Dosen UGM

Kamu Penganut Vegan? Coba Nih Hasil Riset Dosen UGM

by Raja H. Napitupulu
2 minutes read
Jamur

ESENSI.TV - JAKARTA

Hai… Hai… Bagi kamu penganut Vegan yang ada di Indonesia, kini hadir produk baru hasil riset dosen Universitas Gadjah Mada (UGM). Perlu kamu ketahui juga, gegara melakukan riset produk ini, sang dosen meraih penghargaan dan publikasi internasional. Keren ya…

Sekedar informasi, vegan adalah gaya hidup di mana seseorang tidak mengkonsumsi semua produk hewani dan turunannya. Termasuk daging, susu, telur, dan produk-produk yang berasal dari hewan.

Hal ini dilakukan karena alasan kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan hewan. Namun untuk mengganti sumber gizi dan protein tidak semuanya bisa berasal dari produk nabati.

Salah satu sumber protein yang dikembangkan oleh Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Rachma Wikandari ,S.T.P, M.Biotech., Ph.D., adalah pengembangan sumber mikoprotein. Sumbernya berasal dari jamur Rhizopus oligosporus atau sering dikenal dengan nama jamur benang.

Termasuk Plant-Based Food

Menurut Wikandari, jamur benang bukan termasuk jenis sayuran sehingga tidak bisa dikategorikan dalam plant-based food. Oleh karena itu, jenis pangan yang dikembangkannya merupakan jenis sumber protein yang baru.

“Mikoprotein dari jamur benang ini mengandung serat dan protein yang tinggi dengan kandungan lemak yang rendah. Sehingga dapat dikatakan sebagai sumber protein yang sehat,” jelas Wikandari.

Ia menjelaskan, produk mikoprotein dari jamur benang memiliki kandungan protein yang setara dengan telur dan susu. Bahkan terbukti mengandung semua asam amino esensial yang diperlukan tubuh. Meskipun jumlahnya lebih rendah daripada sumber protein hewani.

Mengandung Asam Amino Lengkap

Sebagaimana diketahui, Jamur Rhizopus oligosporus juga diketahui memiliki kandungan asam amino lengkap. Selain itu, juga mudah untuk ditumbuhkan di berbagai substrat, sehingga bisa menekan biaya produksi.

Dibandingkan dengan protein hewani umumnya mempunyai kualitas yang baik, namun harganya tidak terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Sementara protein nabati harganya terjangkau, namun gizinya, terutama asam aminonya tidak lengkap.

“Saya berpikir diperlukan sumber protein yang kualitas baik dan harganya lebih terjangkau serta ramah lingkungan. Hal ini yang mendorong saya untuk mengeksplorasi mikoprotein dari jamur benang,” kata Wikandari.

Baca Juga  Kuwat Triyana, Penemu GeNose Pendeteksi Covid-19 Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UGM

Seiring dengan meningkatnya populasi penduduk dunia pada masa yang akan datang, diprediksi permintaan protein meningkat terutama di negara berkembang. Oleh karena itu diperlukan sumber alternatif protein yang baru.

Bagi dia, sumber mikoprotein dari jamur benang ini menjadi alternatif di luar protein hewani dan nabati.

“Saya memilih jenis jamur lokal Indonesia. Jamur ini biasanya digunakan dalam pembuatan tempe sehingga terbukti aman dikonsumsi,” jelasnya.

Riset Jamur Benang

Riset produk vegan dari jamur benang yang dimulai sejak tahun 2020 ini, kata Wikandari, sudah dipublikasikan di jurnal maupun seminar internasional.

Berkat kebaruan risetnya, Wikandari berhasil mengajak kolaborasi riset dan publikasi internasional dengan berbagai kampus di banyak negara. Beberapa diantaranya dengan University of Boras, Swedia. Lalu ada Universidade de Minho, Portugal, dan York University, Inggris.

Tidak hanya itu, Wikandari juga mendapat penghargaan kategori young scientist dari International Union of Food Science and Technology. Yaitu organisasi profesi untuk ahli teknologi pangan dunia yang beranggotakan kurang lebih 300.000 ilmuwan, pada tahun 2022 di Singapura.

“Baru-baru ini, saya mendapatkan penghargaan dari perhimpunan ahli teknologi pangan Indonesia (PATPI) di tahun 2023. Dan saat ini saya mempunyai kerja sama riset dan publikasi dengan Swedia, Inggris dan Portugal. Saat ini saya menerbitkan 46 artikel di jurnal internasional yang terindeks scopus,” papar dia.

Menurut Wikandari, jamur benang memiliki potensi sebagai mikoprotein dalam pengembangan produk daging tiruan. Bahkan produk mikoprotein yang ia kembangkan sementara belum ada produk sejenis di Indonesia.

Meski pengembangan produk vegan ini masih dalam tahap pengembangan, kata Wikandari, namun sudah menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan. Khususnya dalam beberapa tahun terakhir dan justru mayoritas perkembangan tren gaya hidup vegan ini berkembang di kalangan generasi muda di kota-kota besar.

 

Editor: Raja H. Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life