Home » Bagi Nietzsche, Demokrasi itu cuma Omon-Omon

Bagi Nietzsche, Demokrasi itu cuma Omon-Omon

by Raja H. Napitupulu
3 minutes read
Friedrich Nietzsche

ESENSI.TV - JAKARTA

Untuk menjangkau hingga ke relung pemikiran Nietzsche terdalam tentang demokrasi, saya harus menjelajahi beberapa buku berikut. Pertama, “The Twilight of Idols” oleh Friedrich Nietzsche. Kedua, “Genealogy of Morality” oleh Friedrich Nietzsche.

Ketiga, “The Will to Power” oleh Friedrich Nietzsche. Keempat, “Nietzsche and Democracy” oleh Richard J. Fardon. Kelima, “The Political Philosophy of Friedrich Nietzsche” oleh Paul Franco.

Keenam, “Thus Spoke Zarathustra” oleh Friedrich Nietzsche. Ketujuh, “Nietzsche and Democracy” oleh Leo Strauss. Kedelapan, “The Political Philosophy of Friedrich Nietzsche” oleh Brian Leiter

Siapa Kenal Nietzsche?

Nietzsche memang kritis terhadap demokrasi dan konsep kesetaraan universal. Dia berpendapat bahwa manusia pada dasarnya tidak sama, dan memaksakan kesetaraan melalui sistem demokrasi justru menghambat kemajuan individu dan masyarakat.

Manusia diciptakan dengan kodrat yang berbeda, ada yang terpelajar dan ada yang buta aksara. Ada yang berlimpah harta ada yang hari ini tak bisa memastikan akan makan apa. Ada yang menguasai segalanya ada yang bahkan pada dirinya sendiri tak memiliki kuasa apa-apa.

Pandangan Nietzsche tentang Demokrasi

Berikut beberapa poin penting mengenai pandangan Nietzsche tentang demokrasi.

Pertama, kritik terhadap Kesetaraan Universal. Nietzsche menentang gagasan bahwa semua manusia diciptakan sama. Dia berargumen bahwa manusia memiliki kemampuan, bakat, dan potensi yang berbeda-beda. Memaksakan kesetaraan justru akan menekan individu untuk menyesuaikan diri dengan standar mayoritas. Dan memadamkan potensi mereka yang unik.

Kedua, penolakan terhadap Massa. Demokrasi, bagi Nietzsche, adalah sistem yang dikuasai oleh massa. Massa, menurutnya, terdiri dari individu-individu yang tidak mampu berpikir kritis dan mudah dimanipulasi. Keputusan yang diambil melalui demokrasi, oleh karena itu, tidak selalu mencerminkan kebijaksanaan atau kepentingan terbaik bagi masyarakat.

Ketiga, pentingnya Individu yang Luar Biasa (“Übermensch”). Nietzsche meyakini bahwa kemajuan manusia bergantung pada individu-individu yang luar biasa (“Übermensch”). Individu-individu ini memiliki kekuatan, kejeniusan, dan moralitas yang melebihi rata-rata manusia. Demokrasi, menurutnya, justru menghambat kemunculan individu-individu luar biasa ini. Karena memaksakan kesetaraan dan menekan individualitas.

Keempat, alternatif untuk Demokrasi. Nietzsche tidak menawarkan sistem politik alternatif yang eksplisit. Namun, beberapa interpretasi karyanya menunjukkan bahwa dia mungkin mendukung bentuk aristokrasi. Di mana individu-individu yang paling mampu memimpin dan membuat keputusan.

Demokrasi Kompleks dan Kontroversi

Penting untuk dicatat bahwa pandangan Nietzsche tentang demokrasi kompleks dan kontroversial. Ada banyak interpretasi berbeda atas pemikirannya. Dan beberapa kritikus berpendapat bahwa dia menjustifikasi elitisme dan penindasan.

Meskipun demikian, kritik Nietzsche terhadap demokrasi tetap menjadi topik penting untuk diskusi dan refleksi. Terutama dalam konteks masyarakat modern yang semakin kompleks dan beragam.

Baca Juga  Esensi Hari Buruh Bagi Gen Z

Nietzsche sangat kritis terhadap demokrasi dan konsep kesetaraan. Dia berpendapat bahwa manusia pada dasarnya tidak sama dan tidak dapat diperlakukan sama rata. Dia mengemukakan beberapa argumen untuk mendukung pandangannya dengan menegaskan beberapa hal.

Pertama, Ketidaksetaraan Kemampuan

Nietzsche percaya bahwa manusia memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda-beda. Ada yang unggul dalam intelektual, seni, kepemimpinan, dan lain sebagainya. Menurutnya, demokrasi yang memberikan hak dan suara yang sama kepada semua orang, mengabaikan perbedaan kemampuan ini. Hal ini dapat menyebabkan orang-orang yang tidak kompeten mendapatkan kekuasaan dan membuat keputusan yang keliru.

Kedua, Bahaya Massa

Nietzsche juga mengkhawatirkan tirani mayoritas dalam demokrasi. Dia berargumen bahwa dalam sistem demokrasi, suara mayoritas selalu didengar, meskipun suara tersebut mungkin tidak mewakili kepentingan terbaik semua orang. Hal ini dapat menindas kelompok minoritas dan menghambat kemajuan individu yang luar biasa.

Ketiga, Penyangkalan Keinginan Kuasa

Nietzsche melihat demokrasi sebagai penyangkalan hasrat manusia untuk berkuasa. Dia percaya bahwa setiap individu memiliki keinginan untuk mendominasi dan mengendalikan lingkungannya. Dalam demokrasi, keinginan ini ditekan dan digantikan oleh nilai-nilai kesetaraan dan kolektifisme. Hal ini, menurut Nietzsche, dapat menyebabkan frustrasi dan pemberontakan.

Keempat, Kematian Individualitas

Bagi Nietzsche, demokrasi mempromosikan konformitas dan menekan individualitas. Dia percaya bahwa setiap individu memiliki potensi untuk menjadi luar biasa dan mencapai hal-hal besar. Namun, dalam demokrasi, orang-orang didorong untuk mengikuti norma dan standar yang sama, sehingga menghambat potensi mereka untuk berkembang.

Penting untuk dicatat bahwa kritik Nietzsche terhadap demokrasi tidak berarti dia mendukung sistem otoriter atau totaliter. Dia justru menginginkan sistem yang memungkinkan individu untuk berkembang dan mencapai potensi penuh mereka. Terlepas dari latar belakang atau kemampuan mereka. Sistem ini, menurutnya, harus berdasarkan pada meritokrasi dan pengakuan atas perbedaan individu.

Meskipun pandangan Nietzsche tentang demokrasi kontroversial, dia menawarkan kritik yang penting terhadap sistem ini. Kritiknya mendorong kita untuk mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi dasar demokrasi . Dan memikirkan cara-cara untuk meningkatkannya agar lebih adil dan efektif.

Perlu diingat bahwa interpretasi pemikiran Nietzsche tentang demokrasi masih terus diperdebatkan. Ada berbagai sudut pandang tentang bagaimana memahami kritiknya dan apa implikasinya bagi praktik demokrasi saat ini.

Pingin bukti betapa kacaunya demokrasi, mungkin kita bisa belajar dari Pilpres di Indonesia

 

Penulis: Gus Nas (Budayawan)

Editor: Raja H. Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life