Home » Dampak Perubahan Iklim Rusak Lahan Pertanian di Jerman

Dampak Perubahan Iklim Rusak Lahan Pertanian di Jerman

by Raja H. Napitupulu
3 minutes read
Climate

ESENSI.TV - JERMAN

Perubahan iklim sudah dirasakan di Jerman, cuaca buruk dengan hujan yang sangat deras dan hujan es terjadi di mana-mana di seluruh Jerman. Tanah pertanian yang subur hilang terbawa air.

Kemudian kekeringan melanda, berbulan-bulan hujan tidak turun sama sekali. Akibatnya, seluruh panen rusak dan lahan pertanian berubah menjadi lahan gersang.

Keluarga Garmers mengolah lahan pertanian mereka di Jerman Utara sejak tiga generasi. Baik ayah maupun putranya setuju, mereka ingin meningkatkan hasil panen. Keluarga itu berupaya menahan air di dalam tanah selama mungkin, terutama di musim kering. Mereka mewujudkan itu dengan sistem pengolahan tanah yang datar.

Penggunaan Mesin Baru

Generasi baru mesin pertanian hanya mengolah tanah sangat tipis di bagian permukaan. Dengan demikian bagian atas hampir tidak tersentuh dan struktur tanah tetap terjaga.

Stefan Kroger menjual mesin pertanian seperti itu yang menentukan kombinasi kecepatan bergerak, garpu dan pemutarnya. Dengan cara itu, mesin membuat semacam payung sisa tanaman yang melindungi tanah dari terik matahari.

Kalau permukaan dilapisi sisa tanaman, suhu tanah menurun, jika suhu tanah tidak terlalu tinggi, air yang menguap juga tidak terlalu banyak. Saat menyebar benih tanaman, mereka juga mengolah permukaan sedatar mungkin.

Ia menggunakan mesin penyemaian langsung. Jadi bibit ditempatkan langsung di lapisan tanah yang mengandung air dengan bantuan garpu pembuat lubang di bawah lapisan.

Manfaat Cacing

Sisa tanaman, meskipun dia menanam berbagai jenis tanaman dalam cuaca kering, hasilnya tetap bagus. Terutama cacing sangat baik bagi kesehatan tanah. Mereka membuat lubang-lubang di dalam tanah sehingga mampu menyerap kelembaban, seperti ibaratnya spons.

Dengan metode ini petani muda itu bekerja secara berkelanjutan karena cacing pekerjanya aktif sepanjang tahun.

“Cacing tanah adalah regu pekerja kami yang paling besar dan paling penting. Mereka mengolah sisa tanaman dari lapisan tanah menjadi humus di dalam tanah. Artinya mereka membuat tanah subur,” jelas Stefan Kroger.

Jika tidak ada cacing, air tidak bisa menyerap ke dalam tanah saat hujan turun deras. Melainkan membentuk jalur air kecil yang menarik seluruh lapisan tanah subur. Puluhan tahun diperlukan sampai lapisan subur yang terbawa erosi bisa terbentuk kembali.

Baca Juga  Pemilu Telan Dana 23 Triliun, Masih Sisa Banyak

Pengembangan Cacing Tanah Indonesia

Sebelumnya, Kedutaan Besar Indonesia di Kuwait menerangkan, adanya jenis cacing tanah sebagai penghasil pupuk organik. Jenis cacing ini disebut Eisenia Fetida/Red Wiggler yang diterbangkan langsung dari Indonesia.

Cacing ini sangat mudah diternak dan proses regenerasinya sangat cepat. Hal ini mendorong tenaga ahli dan terampil Indonesia yang bekerja di National Fertilizer Company (NFC) bernama Hasnim, mencoba vermikuler (budidaya ternak cacing tanah) di area perkebunannya di Wafra, Kuwait.

Sejak Maret 2020, NFC telah mengimpor 75 ribu liter pupuk organik atau yang disebut vermikompos asal Indonesia. Angka penjualan di Kuwait saat ini mencapai US$ 60 ribu dan akan terus meningkat, baik untuk kebutuhan perkebunan, pertanian maupun juga untuk perumahan.

NFC menerima banyak testimoni positif dari 12 distributor utamanya di Kuwait. Selain Kuwait, vermikompos ini sudah diperkenalkan di Arab Saudi, dan Libanon. Rencana besar NFC adalah untuk mengembangkan area perkebunannya menjadi area budidaya cacing tanah jenis Eisenia Fetida sebagai komoditas unggulan. Selain vermikompos, NFC akan menyiapkan perkebunan aloe vera dan jojoba.

Lahan Perkebunan

Kondisi tanah Kuwait hanya 5% yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan, dengan cuaca yang cukup ekstrim. Ketika musim panas, waktu efektif berkebun adalah pada musim dingin di bulan Oktober – April setiap tahunnya. Dengan demikian, 90 persen kebutuhan pangan negara penghasil minyak ini sangat bergantung pada impor dari seluruh dunia.

Vermikompos dan benih cacing tanah ini adalah komoditas ekspor pertanian Indonesia yang tepat sasaran dan unggul karena belum banyak jenis pupuk kompos ramah lingkungan dengan kualitas nomor satu seperti ini.

Mengikuti suksesnya dua produk pertanian asal Indonesia di Kuwait, KBRI Kuwait mendorong pelaku bisnis pertanian dan perkebunan Indonesia untuk masuk ke Kuwait.

Jika cacing tanah Indonesia memiliki potensi ekonomi bagi pertanian, bukankah sebaiknya potensi itu juga dikembangkan di dalam negeri? Utamanya dalam meningkatkan kesuburan lahan pertanian yang berimplikasi pada peningkatan produksi pertanian.

 

Editor: Raja H. Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life