Home » Indeks Saham Diprediksi Tidak Stabil, Ini Sentimen Pasar yang Perlu Dicermati

Indeks Saham Diprediksi Tidak Stabil, Ini Sentimen Pasar yang Perlu Dicermati

by Erna Sari Ulina Girsang
2 minutes read
Ilustrasi transaksi saham. Foto: Image by jcomp on Freepik

Indeks saham di pasar modal diperkirakan masih akan bergerak volatile (tidak stabil), merepons laporan keuangan perusahaan yang akan semakin ramai dirilis dan sederet data ekonomi global pekan ini.

Indeks utama Wall Street menutup bulan Februari di teritori bearish dengan total penurunan 4.19% untuk Dow Jones, 2,61% untuk S&P500 dan 1,11% untuk Nasdaq, berkebalikan dengan pasar obligasi yang nyaman di posisi yield Uptrend.

Serangkaian data ekonomi AS yang dirilis pekan lalu menyatakan menggiatnya kegiatan manufaktur dan jasa, seperti pesanan barang manufaktur dan harga bahan baku mentah.

“Kenaikan indikator ekonomi ini  membawa S&P Global Composite PMI selama Februari ikut naik dan masuk ke area ekspansif,” tulis tim Riset NH Korindo Sekuritas Indonesia dalam prediksi pasar Senin (6/3/2023).

Daya beli masyarakat juga masih kencang, terbukti dari data Pending Home Sales selama Januari, melonjak tinggi 8,1% MoM.

Angka ini diatas proyeksi 1% dan juga lebih tinggi dari periode bulan sebelumnya 1,1%. Data ketenagakerjaan AS tetap solid, di mana tingkat pengangguran terus turun dan upah pekerja terus naik.

Menyikapi sejumlah laporan di atas, Pejabat the Fed berusaha untuk tidak terdengar terlalu agresif.

The Fed Masih Ada Ruang Naikkan Bunga 25 bps

Atlanta Fed President Raphael Bostic berkomentar bahwa besaran kenaikan suku bunga 25 bps masih bisa diterapkan untuk membatasi resiko tekanan resesi pada ekonom.

Di sisi lain, walau Bank of America memberi peringatan bahwa suku bunga acuan AS bisa bertengger mendekati level 6%.

Kondisi Inflasi tinggi juga masih dialami Zona Eropa & negara-negara tergabung, didukung oleh kekuatan daya beli masyarakat & bukti PMI yang ekspansif baik dari sisi manufaktur maupun jasa.

Semakin menguatkan keyakinan bahwa ECB tidak akan berhenti menaikkan suku bunga sampai ada tanda-tanda tingkat Inflasi Zona Eropa bisa ditekan mendekati 2%.

Indeks saham global MSCI All-World juga mengakhiri bulan Februari dengan negatif 3%, menghapus profit cukup besar dari kenaikan 7% sebelumnya di bulan Januari.

Dari belahan dunia Timur, angka Composite PMI selama Februari China naik ke level pertumbuhan tercepat dalam lebih dari 1 dekade, sehingga diharapkan dapat menekan dominasi USD.

Baca Juga  Investor Tambah Investasi di Pasar Saham Indonesia Jelang Natal 2023

Namun, nilai tukar Rupiah malah sempat menyentuh level tertinggi 1,5 bulan pada Rp1.5321/USD.

Hal ini mungkin ada hubungannya dengan posisi utang pemerintah yang mencapai Rp7754,98 triliun selama Januari atau setara dengan rasio PDB 38,56%.

Angka ini sedikit meningkat dari posisi bulan Desember lalu, yaitu Rp7.733,99 triliun. Adapun Inflasi februari mencapai 5,47% YoY dari posisi terendah 5 bulan di Januri mencapai 5,28%.

Di sisi lain, Inflasi Inti Februari tampak semakin terkendali dengan turun ke level 3,09% YoY. Angka ini (lebih rendah dari konsensus dan bulan sebelumnya.

Dalam rangka stabilisasi Rupiah, Bank Indonesia mulai mengimplementasikan kebijakan mengendapnya Devisa Hasil Ekspor selama periode tertentu di bank dalam negeri.

Bank sentral Indonesia juga memberikan insentif tingkat bunga yang menarik kepada para eksportir.

Prediksi Indeks Saham Pekan Ini

Data US Nonfarm Payrolls (rilis Jumat) bakal menjadi laporan penting terakhir yang ditunggu-tunggu para pelaku pasar sebelum FOMC Meeting 21-22 Mare.

Di mana mana ada perkiraan penambahan 200 ribu pekerjaan baru bulan Februari lalu, Angka ini berkurang  dibandingkan penambahan lapangan kerja Januari yang  mencapai 517 ribu.

Sementara itu, angka pengangguran Februari  tetap stabil sekitar 3,4% dan menjadi level terendah dalam 5 dekade terakhir.

Namun sebelum itu, Chairman Federal Reserve Jerome Powell akan tampil di depan Kongres untuk mempresentasikan kebijakan moneter tengah tahun dari bank sentral.

Komentarnya akan dimonitor dengan ketat apakah kenaikan suku bunga dengan besaran yang lebih besar dari 25 bps akan dipertimbangkan.

Data ekonomi yang perlu dicermati, antara lain Construction PMI Inggris, German Retail Sales dan CPI. PDB 4Q22 Zona Eropa, PDB Januari Inggris, PDB 4Q22 Jepang, serta Neraca Perdagangan dan Inflasi Jepang.

Semua itu jelas merupakan dinamika yang mendasari keputusan sejumlah bank sentral pekan ini, meliputi Jepang, Australia dan Kanada, terkait kebijakan moneter mereka.*

Email: ernasariulinagirsang@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang

#beritaviral
#beritaterkini

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life