Home » Kondisi Ekonomi China Memburuk, Kenapa Dunia Harus Ikut Khawatir?

Kondisi Ekonomi China Memburuk, Kenapa Dunia Harus Ikut Khawatir?

by Erna Sari Ulina Girsang
3 minutes read
Ilustrasi kondisi ekonomi Tingkok. Foto: Ist

ESENSI.TV - JAKARTA

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang sangat pesat selama ini belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, kini negara ini mengalami perlambatan yang signifikan, disertai dengan krisis properti dan kondisi lain.

Raymond Yeung, Kepala Ekonom Tiongkok Raya di ANZ mengatakan pihaknya tidak memperkirakan adanya pemulihan yang berarti di pasar properti Tiongkok tahun 2024 ini.

Dia bahkan melihat ada tekanan terjadi deflasi di Tiongkok saat ini.

Hal ini juga dibenarkan oleh Robin Xing, Chief China Econoimst Morgan Stanley. Dia mengatakan situasi di Tingkok saat ini merupakan deflasi terdalam dan terpanjang di Tiongkok sejak krisis keuangan Asia tahun 1998.

Pasar saham telah kehilangan nilai sebesar USD6 triliun selama satu setengah tahun terakhir. Di Tiongkok juga ada peningkatan angka pengangguran, khususnya di kalangan generasi muda.

Tantangan bagi negara-negara lain adalah bahwa penurunan ini berarti Tiongkok kini mengurangi belanja mereka. Singkatnya ini berarti bahwa Louis Vuitton menjual lebih sedikit tas tangan.

Penjualan Apple untuk iPhone akan berkurangg dan pendanaan Tiongkok untuk kereta api di Afrika dan pelabuhan di Eropa juga akan berkurang.

Hal ini dilaporkan Jill Disis, Editor Bloomberg, seperti dilansir dari Bloomberg Original. Dia mengatakan semua orang mulai, dari perusahaan multinasional besar hingga masyarakat awam telah terseret ke dalam kisah Boom Tiongkok yang kini akan segera berakhir.

Singkatnya, jelas Jill, akan terjadi hal terbutuk dalam perekonomian. Pertanyaannya, adalah seberapa buruk persoalan itu?

Keluar Dari Kemiskinan

Keajaiban pertumbuhan Tiongkok buruk sebelum dunia dapat memahami dampak dari semua ini, sehingga perlu dipahami betapa buruknya hal-hal yang terjadi di Tiongkok.

Hal yang tidak dapat dihentikan bagaimana Tiongkok telah menjadi landasan bagi industri manufaktur dunia. Jika ekonomi China melemah, maka akan berpengaruh terhadap industru manufaktur berbagai negara.

PDB negara ini secara rutin mengalami pertumbuhan dua digit dan pada tahun 2010 melampaui Jepang sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia.

Pencapaian itu ditopang oleh aktivitas masyarakat. Orang-orang yang berprofesi sebagai petani pindah ke kota dan menjadi pekerja Pabrik. Pilihan ini membawa kekayaan yang sangat besar bagi semua orang.

Keputusan bekerja di pabrik juga benar-benar mendorong mereka keluar dari kemiskinan dan masuk ke dalam kelas menengah yang berkembang pesat, yang diuntungkan oleh kebangkitan kelas menengah di Tiongkok.

Penjualan Berkurang

Berbagai Merek multinasional Volkswagen, misalnya, menjual lebih dari setengah juta mobil di Tiongkok pada tahun 2005 pada tahun 2019.

Penjualan Apple di Tiongkok mencapai 4 juta dolar meningkat dari hampir 13 miliar dolar menjadi hampir 70 miliar dolar dalam satu dekade pada tahun 2018.

Raksasa kosmetik Estee Lauder mengandalkan Tiongkok untuk sebagian besar pertumbuhan penjualannya.

Hal yang sama juga dialami pengusaha lokal. Contohnya, Stephany, 36 tahun, baru mengetahui kebangkitan Tiongkok. Dia mulai bekerja 10 tahun yang lalu membantu perusahaan-perusahaan memasuki pasar Tiongkok. Dia hanya berasumsi bahwa kualitas hidup akan terus meningkat.

Baca Juga  Tenaga Kerja di Indonesia dan Upaya Untuk Menjawab Segala Tantangan

Pada tahun 2023, Stephanie dipecat ketika majikannya memutuskan untuk mengurangi operasinya di Tiongkok. Stephanie tidak sendirian.

Namun, kemudian kisah booming tersebut terhenti selama pandemi. Tiongkok menerapkan kebijakan bebas virus corona yang ketat, sehingga membuat pemerintah daerah menghabiskan banyak uang untuk karantina dan pengujian.

Kebijakan ini juga menyebabkan pabrik-pabrik bisnis dan seluruh kota tutup karena sejumlah infeksi geopolitik terutama ketegangan dengan AS telah memperburuk masalah yang dihadapi perekonomian Tiongkok.

Mantan presiden Donald Trump memberlakukan sejumlah tarif terhadap barang-barang Tiongkok dan pembatasan akses Tiongkok terhadap teknologi chip oleh pemerintahan Biden.

Serta kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik terkait Taiwan menyebabkan perusahaan-perusahaan asing mengurangi investasi langsung mereka ke Tiongkok.

Ini adalah perekonomian yang dibangun melalui perluasan pesat proyek-proyek infrastruktur yang dipicu oleh penumpukan utang yang cepat di kalangan pengembang.

Pasar Saham Melemah

Krisis yang terjadi di Tiongkok juga telah menyebabkan lemahnya pasar saham. Banyak orang yang meninggalkan pasar ekuitas karena ketakutan bahwa perekonomian sedang melambat. Anak-anak muda Tiongkok juga mengurangi pengeluaran mereka.

Hampir satu dari 3 pekerja kantoran di Tiongkok melaporkan penurunan gaji pada tahun 2023, yang merupakan bagian tertinggi dalam setidaknya 6 tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Stephanie mendapatkan pekerjaan sebagai agen asuransi tetapi pendapatannya mengalami penurunan yang besar

Bagi mereka yang memasuki pasar kerja, situasinya bahkan lebih buruk lagi karena pengangguran kaum muda menjadi sangat buruk. Tiongkok berhenti mempublikasikan data tersebut selama beberapa bulan

Lulusan baru seperti Y shiong dan pacarnya kini harus memperhatikan keuangan mereka

Perubahan sikap inilah yang akan berdampak pada dunia. Konsekuensinya bagi dunia, Xi Jinping akan mempunyai implikasi yang lebih luas bagi negara-negara lain di seluruh dunia.

Perusahaan-perusahaan yang sebagian besar pertumbuhannya bergantung pada Tiongkok akan menghadapi tantangan yang lebih berat waktu ke depan dan hal ini mempunyai implikasi terhadap pengeluaran di luar Tiongkok dan belum terlihat perbaikan.

Perlambatan ini memperumit keadaan bagi Presiden Xi Jinping yang berusaha memperkuat posisinya sebagai pemimpin paling berkuasa di Tiongkok sejak masa pertumbuhan.

Ketika perekonomian sedang booming, masyarakat lebih cenderung menerima kendali Partai Komunis pada hal-hal, seperti kebebasan berpendapat sebagai imbalan atas kesejahteraan dan perlambatan perekonomian.

Hal ini juga berarti bahwa pengaruh Tiongkok di luar negeri dapat dibatasi dengan belanja asing dalam skala yang sama karena beberapa tahun terakhir menjadi semakin sulit untuk membenarkan adanya konsekuensi bagi kita sebagai pembayar pajak.

Email: ernasariulinagirsang@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life