Home » Permintaan Tinggi, Ikan Tilapia Jadi Sumber Devisa bagi Perekonomian Sumut

Permintaan Tinggi, Ikan Tilapia Jadi Sumber Devisa bagi Perekonomian Sumut

by Junita Ariani
3 minutes read

ESENSI.TV - MEDAN

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumatera Utara (Sumut), menyebut permintaan domestik akan ikan tilapia, baik di Sumut maupun di luar negeri, masih besar. Sementara produksi ikan tilapia (nila) di Sumut tahun 2022 mencapai 71.000 ton.

Demikian disampaikan Analisis Akuakultur Bidang Perikanan Budidaya, Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan DKP Sumut, Widodo.

“Secara keseluruhan produksi ikan air tawar di Provinsi Sumatera Utara tahun 2022 mencapai 250.000 ton. Dan, 71.000 ton di antaranya adalah ikan tilapia,” katanya.

Widodo mengatakan itu, saat menjadi salah seorang pembicara dalam Talk Show yang diadakan PT Regal Springs Indonesia (RSI).

Diketahui RSI menjadi salah satu pengisi stan di acara Pekan Inovasi dan Investasi Sumut yang berlangsung di Istana Maimun, Rabu (24/5/2023).

Menurut Widodo, hampir seluruh wilayah di Sumut dapat menjadi budidaya ikan nila. Namun ada beberapa lokasi yang menjadi sentra, di antaranya Kabupaten Samosir, Toba, Simalungun, Dairi dan Langkat.

Diktakannya, ikan nila atau tilapia ini masuk ke Indonesia tahun 1969 dan hingga saat ini melalui beberapa rekayasa, telah dihasilkan 13 jenis/strain terbaik.

Contohnya Nila Salina, Anjani, BEST, Jatimbulan, JICA dan sebagainya.

“Ada jenis ikan nila yang mampu hidup di air tawar ada yang dapat hidup di air payau,” ujarnya.

Widodo mengatakan, ikan nila juga dapat menjadi sumber devisa, baik bagi perekonomian Sumut maupun nasional. Hal ini terjadi karena permintaan ikan nila oleh luar negeri sangat besar. Sehingga tak heran jika ikan nila juga menjadi komoditas ekspor bersama ikan air tawar lainnya.

“Sekitar 30% dari total produksi ikan air tawar di Sumut diekspor ke luar negeri, termasuk ikan nila. Sehingga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian,” tuturnya dalam acara yang sama.

80% Produk Tilapia RSI Diekspor

Salah satu produsen ikan nila di Sumut adalah Regal Springs Indonesia (RSI). Menurut Senior Marketing RSI, Ratna Yudithtya, permintaan tilapia baik di pasar ekspor maupun domestik terus meningkat.

“Saat ini 80% ikan Tilapia yang kita hasilkan masih diekspor ke berbagai negara. Tapi kita juga terus mengembangkan pasar domestik. Kita terus melakukan edukasi mengenai manfaat dari konsumsi ikan nila bagi kesehatan. Terutama untuk kesehatan dan pertumbuhan anak-anak,” ujarnya.

Baca Juga  Tujuh Prioritas Ekonomi yang Dicapai pada AEM di Magelang

Ratna mengatakan, edukasi yang dilakukan oleh RSI tidak hanya mengenai manfaat ikan tersebut bagi kesehatan saja, namun juga cara mengolah ikan agar dapat dinikmati masyarakat.

“Sampai saat ini ada lebih dari 100 resep cara memasak ikan tilapia. Masyarakat dapat melihat resep ini dalam website regalsprings.co.id dan media sosial kita. Dan dalam Pekan Inovasi dan Investasi Sumut ini kita juga menghadirkan chef Yadi yang mengajarkan olahan Tilapia,” tuturnya.

Ratna mengatakan, masyarakat banyak mengkonsumsi ikan nila, karena beragam manfaatnya.

“Ikan nila yang dibudidayakan di kawasan Danau Toba, khususnya oleh Regal Springs Indonesia, memiliki kelebihan tidak berbau lumpur. Di samping itu ikan nila juga sudah dikenal tinggi protein, rendah lemak, bebas antibiotik, bebas pengawet. Bebas bahan kimia, tinggi vitamin D dan mengandung omega 3,” ujarnya.

RSI kata dia, menyediakan ikan nila dalam berbagai bentuk di antaranya fillet dan kepala ikan. Hal ini memudahkan masyarakat dalam mengolah tilapia tersebut sesuai selera.

Sumber Protein bagi Anak

RSI sendiri hadir di Indonesia pada tahun 1988. Saat ini RSI memiliki lokasi operasi di kawasan Danau Toba dan Serdangbedagai. Dengan memperkerjakan ribuan karyawan.

Regal Springs Indonesia merupakan perusahaan produsen ikan nila bertanggung jawab yang terbesar di Indonesia.

Pembicara lainnya, dr Liza Aspera. Dokter spesialis anak ini mengatakan bahwa ikan tilapia dapat menjadi salah satu sumber protein yang dibutuhkan, khususnya pada anak-anak.

Protein bagi balita kata dia, berfungsi untuk membangun massa otot dan pertumbuhan sel, meningkatkan metabolisme. Kemudian, untuk produksi hemoglobin, sumber energi serta mencegah stunting.

Dikatakan dr Liza, bagi ibu hamil, protein berfungsi sebagai sumber kalori, zat pembangun serta memperbaiki jaringan tubuh pada janin. Seperti otot, tulang, mata kulit, jantung dan hati, membantu pembentukan darah dan cairan ketuban serta sel-sel janin.

Kemudian,, mendukung pertumbuhan jaringan dan plasenta, membentuk antibodi bagi ibu dan janin serta menjaga kesehatan tulang dan janin,” ujarnya. *

#beritaviral
#beritaterkini

Email : junitaariani@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life