Home » Giling Tebu Wilayah Jawa Barat Optimalkan Ketersediaan Gula

Giling Tebu Wilayah Jawa Barat Optimalkan Ketersediaan Gula

by Addinda Zen
3 minutes read
Ketersediaan Gula

ESENSI.TV - JAKARTA

Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menargetkan produktivitas tebu lebih tinggi dari sebelumnya. Hal ini untuk memastikan cadangan ketersediaan gula di BUMN Pangan tersedia. Sekretaris NFA, Sarwo Edhy juga menyampaikan, pihaknya optimis ketersediaan gula tahun ini aman terkendali.

“Kita menargetkan giling pada tahun ini menghasilkan produktivitas dan rendemen yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sehingga dapat meningkatkan stok gula nasional, memastikan Cadangan Gula Pemerintah di BUMN Pangan tersedia, dan mengurangi angka importasi gula pada tahun depan,” jelasnya.

Giling tebu di berbagai pabrik gula telah dimulai. Pembukaan Giling di Pabrik Gula (PG) Jatitujuh milik PT. PG Rajawali II di Majalengka, Jawa Barat juga telah diresmikan belum lama ini. Dimulainya masa giling serentak di bulan Juni ini, akan meningkatkan pasokan gula dalam negeri secara signifikan. Kondisi ini baik untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga gula nasional.

Berdasarkan Prognosa Pangan Nasional, rencana produksi gula konsumsi pada musim giling tahun ini sebesar 2,6 juta ton. Angka ini lebih tinggi dari produksi tahun 2022 sebanyak 2,4 juta ton sesuai data Kementerian Pertanian. Adapun kebutuhan gula nasional sebesar 3,4 juta ton dalam satu tahun. Menurut Sarwo, artinya masih dibutuhkan pengadaan dari luar untuk menutupi kekurangan ketersediaan gula.

“Walaupun saat ini berdasarkan perbandingan produksi dan kebutuhan gula secara nasional kita masih membutuhkan pengadaan gula dari luar, akan tetapi bisa kita apresiasi dengan produksi yang lebih baik. Tahun ini, rencana pengadaan gula konsumsi dari luar lebih kecil dari tahun lalu, hanya di bawah 1 juta ton. Sementara tahun 2022 masih di atas 1 juta ton. Ini langkah awal yang baik untuk memperkuat industri gula nasional kita,” ujarnya.

Kebangkitan Industri Gula Nasional

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama ID Food, Frans Marganda Tambunan mengungkapkan optimismenya bahwa musim giling tahun 2023 merupakan momentum kebangkitan industri gula nasional.

“Dari hasil kunjungan ke pabrik gula yang ada di bawah PG Rajawali II. Saya dapatkan progress positif, baik itu pertambahan lahan. Kemudian PG Sindanglaut yang tiga tahun tutup beroperasi kembali menjalankan aktivitas giling. Kemudian kami juga mendapatkan update penggunaan mekanisasi dan pupuk limbah organik. Ini menguatkan harapan kita bahwa kebangkitan industri gula RNI dimulai dari Jawa Barat,” ujar Frans.

Baca Juga  Joko Agus Setyono Dilantik jadi Sekda DKI

Meningkatnya produksi tebu di wilayah Jawa Barat diakui oleh Direktur Utama PT PG Rajawali II, Wahyu Sakti yang membawahi lima pabrik gula di Jawa Barat. Menurutnya, dalam jangka waktu tiga tahun terakhir dari tahun 2021 hingga 2023 terjadi peningkatan produksi secara berturut-turut. Dari 9 juta kuintal pada tahun 2021, 10,5 juta kuintal pada tahun 2022, dan meningkat lagi menjadi 11,5 juta kuintal pada tahun 2023.

“Setiap tahun PT PG Rajawali II mengalami kenaikan produksi. Hari ini kita siap mulai giling dengan total produksi tebu mencapai 5,6 juta kuintal dengan rendemen 7,5 persen,” ujar Wahyu.

Pengembangan Hak Guna Usaha

Wahyu juga mengatakan, pihaknya tengah mengembangkan Hak Guna Usaha (HGU) lahan hingga mencapai 60 hektar. Langkah tersebut untuk meningkatkan kapasitas dan produksi tebu di wilayah kerjanya.

Dalam kesempatan tersebut, Sarwo juga menyampaikan bahwa saat ini regulasi dalam bentuk Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) mengenai harga acuan untuk komoditas gula telah diajukan kepada Presiden Joko Widodo.

Berdasarkan rancangan Perbadan tersebut, diusulkan kenaikan harga acuan penjualan untuk menjaga harga di tingkat petani. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang meminta agar keseimbangan harga tetap terjaga baik di tingkat produsen, pedagang, maupun konsumen.

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi dalam diskusi di Jakarta (31/05) menegaskan, perumusan kenaikan harga acuan penjualan yang dituangkan dalam Perbadan untuk komoditas gula telah mempertimbangkan berbagai aspek baik dari sisi petani, pelaku industri, pedagang maupun konsumen. Berbagai stakeholder di sektor pergulaan juga telah diundang untuk memberikan masukan terkait dinamika harga komoditas tersebut.

Adapun berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional per 3 Juni 2023, harga rata-rata gula di tingkat konsumen sebesar Rp. 14.511 per kg dengan harga tertinggi di Papua Barat sebesar Rp. 16.071 per kg dan terendah di Jawa Timur sebesar Rp. 13.432 per kg.

 

 

Editor: Dimas Adi Putra

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life