Home » Indonesia Kehilangan 292.000 Ha Hutan Tropis Sepanjang Tahun 2023

Indonesia Kehilangan 292.000 Ha Hutan Tropis Sepanjang Tahun 2023

by Raja H. Napitupulu
2 minutes read
Deforestasi di Kalimantan Tengah./Foto: Ario Tanoto/Betahita

ESENSI.TV - JAKARTA

Selama El Nino tahun 2023, Indonesia kehilangan hutan tropis seluas 292.000 hektare, berdasarkan laporan Forest Global Watch-World Resource Institute (FGW-WRI).

Hilangnya hutan primer pada petak-petak yang luasnya lebih dari 100 hektare itu menyumbang 15% dari hilangnya hutan primer di Indonesia pada 2023. Hal itu dikatakan Mikaela Weisse, salah satu penulis laporan kolaborasi dengan University of Maryland itu,

Seperti dilansir dari laman Betahita, Perluasan hutan tanaman industri terjadi di beberapa lokasi yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit. Dan pulp dan kertas yang sudah ada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Papua Barat.

Sebagian besar hilangnya hutan primer di Indonesia terjadi di kawasan yang diklasifikasikan Indonesia sebagai hutan sekunder dan tutupan lahan lainnya. Ini termasuk pertanian lahan kering campuran, perkebunan, hutan tanaman, dan semak belukar.

Data tersebut dirilis bersamaan dengan luas kehilangan hutan primer secara global yang mencapai 3,7 juta hektare. Hal ini terjadi di negara-negara tropis, yang dipengaruhi oleh kebijakan politik pemimpin. Seperti di Laos, Bolivia, dan Nikaragua; maupun kebakaran hutan seperti di Kanada.

Hutan Primer

Hal ini disebabkan definisi hutan primer GFW berbeda dengan definisi dan klasifikasi hutan primer resmi di Indonesia. Oleh karena itu, statistik GFW mengenai hilangnya hutan primer di Indonesia jauh lebih tinggi. Khususnya jika dibandingkan statistik resmi Indonesia mengenai deforestasi di hutan primer.

Para penulis mencatat bahwa perluasan ini terjadi pada konsesi yang diberikan sebelum tahun 2014, ketika pemerintahan saat ini menjabat, berdasarkan klaim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Hilangnya hutan primer dalam skala kecil juga terjadi di seluruh negeri pada 2023. Pembukaan hutan skala kecil untuk pertanian berkontribusi terhadap hilangnya hutan primer di beberapa kawasan lindung, termasuk Taman Nasional Tesso Nilo dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Kerugian lain yang terkait dengan pertambangan dapat dilihat di Sumatera, Maluku, Kalimantan Tengah dan Sulawesi.

Baca Juga  Kepala BMKG: Potensi Kerugian Ekonomi karena Perubahan Iklim Capai Rp 544 T

GFW mencatat, Indonesia memiliki 93,8 juta hektare hutan primer pada 2001, atau 50% dari wilayah daratnya. Sepanjang 2002-2023, luas ini menyusut di mana Indonesia kehilangan 10,5 juta hektare hutan primer basah. Menurut data GFW, kehilangan ini berkontribusi pada total tutupan pohon yang hilang dalam rentang waktu yang sama.

Menurut data terbaru tersebut, kehilangan tutupan pohon ini dipicu oleh kebakaran yang memberangus 2,87 juta hektare. Faktor pendorong lainnya berkontribusi pada hilangnya hutan seluas 26,6 juta hektare.

Tutupan Hutan Alam

Provinsi yang mengalami kehilangan tutupan hutan alam paling parah pada periode waktu tersebut berturut-turut adalah Riau (4,2 juta hektare), Kalimantan Barat (4,04 juta hektare), Kalimantan Timur 3,79 juta hektare, Kalimantan Tengah 3,74 juta ha, dan Sumatera Selatan 3,17 juta ha. Sementara itu rata-rata kehilangan tutupan hutan seluas 935.000 hektare.

Menurut para peneliti, munculnya kondisi El Niño menimbulkan kekhawatiran bahwa Indonesia akan mengalami musim kebakaran lagi seperti 2015; namun, kebakaran pada 2023 memiliki dampak yang tidak terlalu parah dibandingkan perkiraan awal. Di daerah pedesaan, api digunakan untuk membuka lahan untuk pertanian dan dapat keluar dari batas properti ke pepohonan dan tanah gambut, sehingga melepaskan simpanan karbon ke atmosfer.

“Kondisi yang lebih basah dibandingkan El Niño tahun 2015 dan investasi yang dilakukan pemerintah dalam kemampuan pencegahan kebakaran, serta upaya untuk menekan kebakaran yang dilakukan oleh masyarakat lokal, semuanya berkontribusi pada musim kebakaran yang lebih tenang dari perkiraan,” tulis para peneliti, seperti dilansir dari laman Betahita, Rabu (10/4/2024).

Email: ernasariulinagirsang@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life