Home » Ini Catatan Penting Menag bagi Akademisi PTKI Jawab Krisis Kemanusiaan

Ini Catatan Penting Menag bagi Akademisi PTKI Jawab Krisis Kemanusiaan

by Junita Ariani
2 minutes read
Menag Yaqut Cholil Qoumas meminta para akademisi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dapat memberikan arah kajian yang humanis

ESENSI.TV - SEMARANG

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meminta para akademisi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dapat memberikan arah kajian yang humanis. Dengan berpijak pada hasil-hasil riset dunia Islam yang mumpuni.

Menurutnya, agama tidak hanya sebagai sumber ketenangan spiritual, tetapi juga sebagai pendorong perubahan positif dalam masyarakat.

“Harus disadari bahwa dalam menghadapi krisis kemanusiaan, perlu ada upaya serius. Untuk merekonseptualisasi peran agama agar lebih inklusif, responsif, dan progresif,” tegas Menag.

Hal itu dikatakan Gus Men, sapaan Menag Yaqut, saat menutup Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-23 di UIN Walisongo Semarang, Sabtu (3/2/2024).

Forum ini berlangsung mulai 1-4 Februari 2024, mengundang para pakar dan pimpinan agama dari dalam dan luar negeri.  Dengan tema “Redefining the Roles of Religion in Addressing Human Crisis: Encountering Peace, Justice, and Human Rights.”

Catatan Penting untuk Para Akademisi PTKI

Untuk menghadirkan peran agama dalam menjawab krisis kemanusiaan, lanjut Gus Men, ada sejumlah catatan penting yang perlu menjadi perhatian para akademisi PTKI.

Pertama, pentingnya memahami peran agama dalam krisis kemanusiaan.

“Agama sejatinya bukan hanya tentang keyakinan pribadi. Tetapi juga tentang bagaimana keyakinan tersebut memberi sumbangan nyata dalam mengatasi krisis kemanusiaan,” sebutnya.

Saat ini, kata Menag, pesan Agama Kemanusiaan telah menggema dari Indonesia dan Asia Tenggara. Untuk dunia yang sedang berduka atas krisis kemanusian yang terjadi di Eropa Timur dan Timur Tengah.

Baca Juga  Menag Minta Sinergi Jaminan Produk Halal Indonesia-Jepang Dikebut

Kedua, pentingnya memahami ajaran agama sebagai sumber gerakan kemanusiaan bersama. Menurutnya, gerakan nyata menerjemahkan nilai agama perlu melibatkan pendekatan holistik. Yang memadukan nilai-nilai spiritual dengan kebutuhan praktis masyarakat yang terkena dampak.

“Upaya konkret dalam merespons krisis kemanusiaan yang bisa dilakukan misalnya mobilisasi sumber daya agama. Promosi kolaborasi antaragama untuk perdamaian, dan advokasi perdamaian, keadilan, dan hak asasi manusia,” sebut Gus Men.

Terakhir, Gus Men menggarisbawahi pentingnya moderasi beragama sebagai modal berkontribusi nyata. Penguatan moderasi beragama terus dilakukan Kemenag dalam beberapa tahun terakhir.

“Kita harap, penguatan moderasi beragama bisa menjadi kontribusi Indonesia dalam menjawab persoalan kontemporer dan menjaga perdamaian dunia,” sebutnya.

Hadir dalam penutupan AICIS 2024, antara lain, Pj Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana. Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, sekaligus Plt Rektor UIN Walisongo Semarang Nizar Ali.

AICIS ke-23 tahun 2024 menghasilkan Semarang Charter (Piagam Semarang) yang dibacakan oleh Plt. Rektor UIN Walisongo Nizar Ali. Piagam ini memuat 9 butir kesempatan yang dihasilkan dari perhelatan AICIS 2024. *

#beritaviral
#beritaterkini

Email : junitaariani@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life