Home » Sinonim Qatar – Indonesia Versus Iran – Israel

Sinonim Qatar – Indonesia Versus Iran – Israel

by Raja H. Napitupulu
3 minutes read
Qatar-RI

ESENSI.TV - JAKARTA

Pertandingan Piala Asia U-23 tahun 2024, antara Tim Nasional Indonesia dengan Timnas Qatar, menjadi pembicaraan publik internasional. Khususnya kekalahan Timnas Indonesia 0-2 atas tuan rumah Qatar yang berlangsung di Stadion Jassim bin Hamid, Senin (15/4/2024).

Muncul sejumlah kejanggalan dalam laga tersebut. Termasuk kinerja wasit dalam mengambil beberapa keputusan kontroversial. Diantaranya, saat wasit Nasrullo Kabirov mengusir dua pemain Timnas Indonesia, Ivar Jenner dan Ramadhan Sananta.

Berbagai pendapat kesal dan kekecewaan dilontarkan masyarakat Indonesia, atas hasil laga itu. Termasuk komentar dari publik internasional.

Pemain Timnas Qatar dan wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan, dinilai bersepakat memenangkan Timnas Qatar dalam pertandingan itu. Keputusan-keputusan Wasit dianggap menguntungkan Timnas Qatar secara sepihak.

Bahkan media internasional ESPN juga menyoroti kepemimpinan buruk Wasit Nasrullo Kabirov pada laga pembuka Piala Asia U-23 tahun 2024 antara Qatar versus Indonesia.

Peran VAR dalam Pertandingan Sepakbola

Menurut ESPN, Timnas Qatar menang 2-0 lewat gol dari Khalid Ali Sabah (45+1′) dari titik putih dan Ahmed Al Rawi (54′). Namun kemenangan itu diperoleh lewat sejumlah keputusan buruk wasit yang merugikan Timnas Indonesia. Bahkan pemberian kartu merah wasit Nasrullo Kabirov kepada dua pemain Timnas Indonesia dikeluarkannya tanpa mau melihat VAR.

Sebagaimana diketahui, VAR (Video Assistant Referee) merupakan teknologi yang diciptakan sebagai pengawas pertandingan. Alat ini akan merekam setiap jalannya pertandingan itu sendiri. Seorang wasit akan dibantu langsung oleh VAR, dengan sistem kerjanya melalui pantauan kamera yang sudah dipasang di setiap sisi stadion tersebut.

Melihat sejumlah kejanggalan yang merugikan Timnas Indonesia U-23, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengambil langkah untuk melayangkan surat protes ke AFC (Asian Football Confederation), atas kinerja kontroversi wasit Nasrullo Kabirov.

Banyak pertanyaan yang tersisa dalam pemikiran public tanah air tentang kepemimpinan wasit Nasrullo. Meski surat protes yang dilayangkan PSSI tidak akan memengaruhi hasil pertandingan, namun PSSI sudah tepat memberikan teguran kepada penyelenggara atas laga sepakbola itu. Tujuannya, agar setiap penyelenggara dan pelaksana pertandingan sepakbola dapat menjalankan perannya secara optimal dan benar.

“Pinalti” Iran ke Israel

Bergeser ke konflik Iran yang melancarkan serangannya ke Israel, banyak pihak mengkhawatirkan akan memunculkan Perang Dunia III. Ketakutan ini sangat wajar mengingat negara-negara pendukung masing-masing negara, saling menyatakan kesiapan dukungan.

Sebut saja, Rusia, Korea Utara, Yaman, dan beberapa negara lain, siap mendukung tindakan Iran terhadap Israel. Sementara itu, Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan beberapa negara lainnya, pun menyatakan siap mendukung Iran.

Baca Juga  Resesi Ekonomi Sebagai Penyebab Pengangguran

Amerika Serikat bahkan akan menyiapkan sanksi kepada Iran atas tindakannya menyerang Israel. Sedangkan Rusia menyatakan akan memberikan dukungannya, jika Amerika Serikat menyerang Iran. Masing-masing negara koalisi saling beradu menyatakan dukungannya.

Dewan Keamanan PBB pun menyatakan kutukan keras atas eskalasi konflik yang dilancarkan Iran ke Israel. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan agar kedua negara menghentikan pertikaian tersebut.

Guterres juga mengingatkan bahwa dirinya telah berulang kali menekankan kawasan Timur Tengah maupun bagian dunia lainnya, untuk tidak lagi memulai peperangan.

Peran Aktif Indonesia. Mungkinkah?

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Al Makin menganggap Indonesia bisa menjadi mediator atau penengah agar eskalasi konflik Iran-Israel tidak semakin meruncing.

Melalui keterangan tertulisnya, ia meyakini Indonesia mampu menjadi penengah yang baik untuk terciptanya saling berdiskusi Iran dan Israel. Pasalnya, Indonesia memiliki yang cukup modal untuk mendinginkan suasana di Timur Tengah agar konflik menurun. Yaitu budaya saling memaklumi yang tinggi, budaya musyawarah, toleransi, dan budaya moderasi secara alami.

Indonesia nantinya dapat menempuh dua model diplomasi, yakni diplomasi yang dijalankan pemerintah dan non-pemerintah untuk meredam ketegangan di Timur Tengah. Adapun diplomasi non-pemerintah maka dapat dimainkan oleh masyarakat, LSM, akademisi, hingga organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Pandangan Rektor UIN Sunan Kalijaga itu tampaknya sangat visioner menjadikan Indonesia sebagai penengah bagi Iran-Israel. Namun perlu diingat, agar semua pihak dapat menahan diri dalam menerima informasi dan berkomentar tentang konflik Iran dan Israel. Agar tidak semakin memunculkan komentar-komentar yang tidak perlu dan kontraproduktif.

Belajar dari pengalaman laga Timnas Qatar dan Timnas Indonesia yang justru banyak mengalami kejanggalan, Indonesia diingatkan untuk selalu waspada terhadap berbagai potensi kerugian yang akan terjadi. Bukan tidak mungkin, kehadiran dan pandangan Indonesia di tingkat internasional dalam menjalankan misi sebagai penengah Iran-Israel, diabaikan. Namun yang terpenting adalah, seberapa konsisten Indonesia menjalankan peran-perannya dalam perdamaian. Baik di dalam negeri maupun pada skala internasional.

Salah satu aspek yang memenangkan Timnas Qatar dari Indonesia adalah karena Qatar tuan rumah laga sepakbola itu. Maka konsistensi menjadi mutlak dipegang dan diberlakukan oleh Indonesia meski berpotensi rugi, dalam berbagai kondisi yang menguntungkan.

Pertanyaannya, mungkinkah Indonesia berlaku konsisten saat menjadi penengah, atau hanya memainkan peran sebagai oportunis semata?

 

Editor: Raja H. Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life