Home » Tahun Ini, TPL Targetkan Launching Program SDGs 2030

Tahun Ini, TPL Targetkan Launching Program SDGs 2030

by Junita Ariani
2 minutes read
felix

ESENSI.TV - MEDAN

PT Toba Pulp Lestari (TPL) menargetkan pengembangan metodologi terkait perhitungan karbon di tahun 2023. Hal tersebut didasari dengan kondisi perubahan iklim (climate change) yang tengah terjadi saat ini tak hanya di Indonesia, tetapi juga dalam cakupan global.

“Sehingga dalam aktualisasinya, emiten berkode INRU itu sedang mempromosikan Energi Terbarukan (Renewable Energy) serta mengembangkan program-program pendukung lainnya yang juga merupakan bentuk perwujudan menuju Sustainable Development Goals (SDGs) di tahun 2030,” kata Team Leader Sustainability Department TPL Felix Guslin Putra.

Hal itu dikatakan Felix kepada wartawan usai acara Workshop untuk Jurnalis yang mengambil tema “Peran Hutan Tanaman Industri (HTI) bagi Pertumbuhan dan Pengembangan Ekonomi”, Kamis (19/1/2023) di Medan.

Menurut Felix, untuk program pengembangan SDGs 2030 tersebut, TPL akan melaunchingnya pada tahun ini.

“Program itu nantinya berkaitan dengan community development, tentang bagaimana kita memberikan beasiswa kepada masyarakat-masyarakat sekitar, kemudian ada terkait energi, terkait konservasi, jadi itu nanti masing-masing ada targetnya sendiri,” terang  Felix.

Terkait tentang perhitungan karbon, emisi yang dihasilkan, energi yang dihasilkan, pengurangan penggunaan air, dan pengurangan penggunaan bahan kimia, menurut Felix, semua itu sedang ditargetkan.

“Sesuai dengan SDGs 2030, target global kan,” ucap Felix.

Sedangkan terkait target produksi, Felix memproyeksi akan terjadi penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelummya. Penurunan produksi di 2023 diperkirakan berkurang sekitar 10 sampai 20 persen.

“Pada 2022, kami bisa produksi sekitar 190.000-an ton, tapi target untuk tahun ini hanya berkisar 160.000-an ton. Jadi sekitar 30.000 ton berkurang,” sebutnya.

Baca Juga  The Raid: Redemption - Pertarungan Mendebarkan di Dunia Kriminal

Penurunan produksi itu menurut Felix, disebabkan masih belum tercapainya volume kayu yang bisa dimanfaatkan untuk produksi kapasitas maksimal tahunan pabrik. Sehingga masih perlu dilakukan pembenahan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan mencari program kemitraan.

“Sehinga pada tahun 2024 dan 2025 kita bisa menaikkan kapasitas produksi dan bisa self supply. Itu tujuannya,” ucap Felix.

Sementara itu, Media Relation Manager TPL Dedy Armaya mengatakan bahwa target yang dari perusahaan adalah perhutanan sosial. Karena kemitraan-kemitraan daripada Kelompok Tani Hutan (KTH) inilah yang sejatinya akan dioptimalkan.

“Karena kita memang harus lebih banyak menggali masyarakat yang termasuk dalam program Perkebunan Kayu Rakyat (PKR) kita. Jadi, ada masyarakat yang memiliki lahan, dan dia ingin lahan tersebut dimanfaatkan dan bekerja sama dengan perusahaan. Nah, itu yang digandeng,” kata Dedy.

“Sehingga kita lebih fokus. Karena ini adalah futurenya dalam Hutan Tanaman Industri (HTI),” sambung Dedy.

Mengenai skema PKR yang diambil TPL, menurut Felix, dilihat berdasarkan fungsi kawasannya.

“Jadi nggak bisa sembarangan. Hutan produksi, itu kita tidak mau. Jadi kita selalu Areal Penggunaan Lain (APL) lah yang kita ajukan kepada masyarakat. Masyarakat punya lahan yang APL, kita ajukan mau gak kerja sama. Begitu  pembagiannya setiap tahun, sistem bagi hasil,” tutup Felix.

Editor: Addinda Zen

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life