Home » Obesitas Indonesia: Dampak Pasar Makanan Cepat Saji dan Buruknya Infrastruktur

Obesitas Indonesia: Dampak Pasar Makanan Cepat Saji dan Buruknya Infrastruktur

by Addinda Zen
2 minutes read
Obesitas Indonesia Dampak

ESENSI.TV - JAKARTA

Obesitas atau kelebihan berat badan menjadi tentangan kesehatan masyarakat di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Obesitas kerap berdampingan dengan masalah kekurangan gizi dan kekurangan mikronutrien.

Berdasarkan Analisis Lanskap Kelebihan Berat Badan & Obesitas Indonesia, Indonesia mengalami Tiga Beban Masalah Gizi (TBM) yang parah. Pertumbuhan kelebihan berat badan dan obesitas terjadi secara drastis, termasuk di kalangan rumah tangga berpenghasilan rendah.

Dikutip dari Databoks, Selasa (5/3), selama 20 tahun terakhir belum ada penurunan tren kematian akibat obesitas di Indonesia. Obesitas terus meningkat di semua kelompok umur. Data RISKESDAS menunjukkan peningkatan tajam pada prevalensi dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan orang dewasa.

Tahun 2018, 1 dari 5 anak usia sekolah (20%, atau 7,6 juta), 1 dari 7 remaja (14,8%, atau 3,3 juta) dan 1 dari 3 orang dewasa (35,5%, atau 64,4 juta) di Indonesia hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

Kontribusi Makanan dan Infrastruktur

Makanan cepat saji dan gerai ritel modern telah tumbuh berkali-kali lipat. Tingkat pertumbuhan tahunan antara 17-45 persen pada makanan cepat saji dan 14,1 persen pada gerai ritel modern. Ini membuat makanan dan minuman tinggi GGL (Gula, Garam, Lemak) tersedia luas dan terjangkau di seluruh Indonesia.

Tidak hanya itu, ketersediaan maupun kualitas infrastruktur mobilitas aktif yang buruk membatasi kemungkinan aktivitas fisik di luar ruangan. Ditambah juga dengan masalah polusi udara yang terus menerus.

Baca Juga  Bukan Sekedar Lucu! Ternyata Ada 4 Manfaat Memelihara Anjing Untuk Kesehatan

Terbukti bahwa anak-anak, remaja, dan orang dewasa Indonesia memiliki tingkat aktivitas fisik yang tidak memadai. Sebesar 57% anak-anak serta 27,7% orang dewasa tidak memenuhi rekomendasi WHO.

Pemerintah memuat target terkait penanganan obesitas dewasa. Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 mencantumkan target tidak ada peningkatan obesitas dewasa. Namun, ada kesenjangan besar dalam kebijakan dan program yang bertujuan untuk menciptakan tindakan transformatif jangka panjang.

Pemerintah mengedepankan program-program yang fokus pada pencegahan kelebihan berat badan. Contohnya, Gerakan Nusantara Tekan Angka Obesitas (GENTAS) dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
(GERMAS). Perlu diperhatikan, banyak instrumen pendukung obesitas lain yang cukup vital.

Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK) baru berencana disahkan tahun ini. Padahal, rekomendasi Cukai MBDK telah digodok sejak 2016 silam, tetapi prosesnya kian mandek. Banyak negara yang telah menerapkan Cukai MBDK dan memberikan efek kesehatan bagi masyarakat.

Selain itu, skema pelabelan gizi pada bagian depan atau utama label (FOPNL) yang masih bersifat sukarela dan belum termasuk yang direkomendasikan WHO. Begitu pula ketidakpatuhan industri makanan dan minuman terhadap aturan pemasaran makanan dan minuman tinggi GGL.

 

 

Editor: Raja H. Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life