Home » ELEGI LANGIT-BUMI

ELEGI LANGIT-BUMI

by Administrator Esensi
2 minutes read
Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

ESENSI.TV - JAKARTA

Setiap tahunnya, tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup. Ini merupakan momentum penting untuk memberikan kesadaran kepada seluruh pihak akan pentingnya menjaga lingkungan hidup.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup mengusung tema “Beat Plastic Pollution” pada tahun ini. Tentunya, ini memberikan kesan yang mendalam agar sebisa mungkin kita mengurangi penggunaan plastik karena polusinya yang berbahaya.

Polusi plastik adalah ancaman nyata yang berdampak pada setiap komunitas di seluruh dunia. Perubahan iklim menjadi salah satu alasan kita sebagai masyarakat untuk mengurangi sampah plastik.

Seorang penulis bernama Gus Nas turut menumpahkan buah pikirnya melalui puisi tentang lingkungan hidup.

Profil Penulis Gus Nas

Nasruddin Anshoriy atau biasa disebut Gus Nas Jogja  adalah seorang budayawan yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Ilmu Giri Yogyakarta. Selain kiyai dia juga seorang penulis dan pelukis.

Gus Nas banyak dikenal oleh tokoh-tokoh nasional di negeri ini. Tidak hanya artis, politisi, pengusaha, maupun seniman mengenalinya. Dia banyak mengoleksi lukisan-lukisan langka dari para maestro.

Gus Nas telah menorehkan banyak sekali karya-karya yang menarik dalam bait-bait puisi. Beberapa diantaranya seperti Tong Kosong Reformasi, Semesta Bertakbir, Air Mata Sudan, dan beberapa karya lainnya.

Presiden Ke-4 Republik Indonesia, Gus Dur bahkan memujinya dan berkata bahwa ia adalah seorang multi talenta. Hal ini dikarenakan bakat alami yang dimilikinya.

Berikut adalah tulisan Gus Nas dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

ELEGI LANGIT-BUMI

Merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Salah siapa jika bumi tak lagi ramah pada makhluk angkuh bernama manusia?
Silih-berganti bencana tak turun dari langit begitu saja
Ulah tangan-tangan rakus manusia telah mewariskan tanah tandus yang dulu bernama rimbaSaat kota-kota bertambah jelita

Baca Juga  Dapatkan Manfaat Kunyit dengan Rutin Meminumnya

Gedung-gedung menjulang mengangkangi gugusan mega
Rumah-rumah kaca memantulkan wajah kita yang purba
Lihatlah lubang-lubang ozon yang kian menganga
Bukankah polusi dari asap knalpot dan cerobong pabrik adalah kezaliman yang paling nyata?

Lestarikan bumi hanyalah mimpi, manakala hutan dan samudera telah dicemari dan dijarah dengan semena-mena
Lestarikan alam hanya fatamorgana, ketika laut dan udara berpeluk-erat jelaga

Aku merindukan Bengawan Solo yang dulu, Brantas yang tanpa ampas, Serayu yang merayakan rindu
Aku rindu pada Ciliwung yang tak lagi murung, Cisadane, Citarum dan Kali Manuk yang mengalirkan warna biru
Berharap pada Kapuas dan Musi, sungai-sungai yang bercipratan puisi, aku pun kehabisan rindu

Desa-desa mulai binasa
Para petani meninggalkan cangkulnya
Sebab skin-care dan eye-shadow hanya terpampang di etalase kota

Di laut dan darat semua sekarat
Saat manusia telah melampaui batasnya
Jembatan peradaban pun ambruk
Pilar-pilar ekosistem dan spiritualitas porak-poranda

Gunung-gunung dan hamparan lembah tak sanggup lagi menyimpan nestapa
Suara-suara serangga hanya mengabarkan diksi duka-cita

Semua bermula dari gaya hidup hedon flexing yang disembah umat manusia
Serakah dan rakus menjadi berhala

Pemanis, pengawet dan pewarna menjarah diri manusia
Racun dan pestisida selalu terhidang di atas meja

Gus Nas Jogja, 5 Juni 2023

Editor: Nabila Tias Novrianda

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life