Home » Indonesia Darurat Bullying Anak, Bagaimana Pendidikan Moral dan Budi Pekerti?

Indonesia Darurat Bullying Anak, Bagaimana Pendidikan Moral dan Budi Pekerti?

by Junita Ariani
1 minutes read
Pemerintah didorong untuk mencari solusi dari maraknya kasus perundungan atau bullying di Indonesia, terutama bullying anak.

Pemerintah didorong untuk mencari solusi dari maraknya kasus perundungan atau bullying di Indonesia, terutama bullying anak. Dalam kasus bullying berujung penganiayaan, hal tersebut tidak dapat ditolerir.

Banyaknya kasus bullying saat ini membuat Indonesia berada dalam situasi darurat perundungan. Negara tidak boleh membiarkan kasus bullying terus mengalir tanpa ada solusi yang komprehensif.

“Khususnya untuk perundungan yang melibatkan anak sebagai korban dan pelaku,” kata Ketua DPR RI Puan Maharani, Sabtu (30/9/2023) di Jakarta.

Kasus perundungan anak saat ini menjadi sorotan. Setelah adanya kasus anak sekolah yang matanya ditusuk oleh tusukan cilok/bakso hingga mengalami kebutaan.

Terbaru muncul kasus bullying siswa SMP hingga korban mengalami patah tulang rusuk. Bahkan dari video yang viral di media sosial, pelaku bullying melakukan kekerasan fisik dengan memukul, menendang hingga membanting korban.

Korban akhirnya dirawat di rumah sakit karena mengalami luka di bagian dada hingga mengalami sesak nafas.

“Banyaknya kasus bullying berujung kekerasan menjadi keprihatinan kita bersama,” ucapnya.

Baca Juga  Aksi Pembubaran Jemaat GMS di Binjai, Komisi VIII Minta Kemenag Usut Tuntas

Ia menekankan pentingnya sekolah mengedepankan pendidikan karakter, untuk membangun mental yang positif bagi para siswa.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) kata Puan, membuat kurikulum untuk membangun karakter siswa yang positif.

“Penting sekali agar pendidikan budi pekerti kembali masuk dalam kurikulum di sekolah. Karena menjadi modal penanaman akhlak untuk anak. Pendidikan bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga tentang membentuk karakter dan mental yang kuat pada para siswa,” jelasnya.

Ditambahkannya, pendidikan kewarganegaraan siswa di sekolah perlu dilengkapi dengan adanya pendidikan moral dan budi pekerti bagi anak.

Ia menyinggung soal banyaknya kasus di sekolah di mana pembelajaan saat ini lebih banyak berfokus pada unsur akademik semata.

“Sekolah harus menjadi wahana untuk mengembangkan individu yang bertanggung jawab, berempati, dan berperilaku baik,” tambahnya. *

#beritaviral
#beritaterkini

Email : junitaariani@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Radja H Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life