Home » Melatih Filsafat sebagai Ilmu Kritis di Perguruan Tinggi

Melatih Filsafat sebagai Ilmu Kritis di Perguruan Tinggi

by Administrator Esensi
2 minutes read
Ilmu Filsafat

ESENSI.TV - JAKARTA

Filsafat adalah ilmu yang harus dilatih terus menerus, karena melatih nalar memerlukan proses yang panjang. Belajar filsafat juga melatih kita mempelajari alam semesta agar manusia dapat berfikir. Demikian sambutan dari Wakil Rektor Universitas Paramadina Dr. Fatchiah E. Kertamuda saat membuka diskusi knowledge sharing “Melatih Filsafat sebagai Ilmu Kritis di Perguruan Tinggi”  di Universitas Paramadina Jakarta (7/6).

Menurut Fatchiah filsafat adalah aspek penting dalam kearifan.

“Belajar filsafat merupakan seni berpikir kritis dan kebijaksanaan, oleh karenanya karena yang dikaji sesuatu yang tidak terlihat maka bisa saja akan muncul berbagai perspektif yang berbeda,” tambahnya.

Sementara itu, Dr. Budhy Munawar-Rachman menjelaskan urgensi filsafat di masa modern saat ini.

“Filsafat adalah akar dari sains. Mencegah masyarakat mempercayai kebenaran-kebenaran yang tidak jelas di era post truth. Filsafat juga melatih untuk berpikir kritis,” kata dia.

Di era modern saat ini lanjut Budhy, filsafat sudah terpisah dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan yang  sejatinya merupakan turunan dari keilmuan filsafat.

“Oleh karenanya, ketika seseorang akan mempelajari filsafat, seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan pragmatis tentang ilmu filsafat. Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang selalu muncul tentang ilmu filsafat adalah pekerjaan apa yang nanti akan ditekuni, di tengah kompleksitas problem kemanusiaan saat ini” ujar  Budhy.

Karena dianggap ilmu yang tidak membumi, filsafat hanya identik dengan aktivitas penelitian dan pendidikan. Filsafat juga identik dengan intelektual exercise yang tidak membumi. Sebab 70% pekerjaan filsafat adalah mengurusi dan memperdebatkan kembali sejarahnya.

Jika dielaborasi, menurut Budhy ada 3 jenis kegunaan filsafat. Filsafat sebagai kumpulan teori filsafat, filsafat sebagai metode pemecahan masalah, filsafat sebagai pandangan hidup.

Baca Juga  Tahukah Kamu Penyakit Lupus dan Bahayanya?

“Tidak semua orang perlu jadi filosof setelah belajar filsafat, filsafat dapat menjadi reservoir etika – mengutip ucapan Cak Nur.”

Rendahnya Minat Pengkajian Filsafat

Di Indonesia saat ini, dikarenakan rendahnya minat pengkajian filsafat di Indonesia, perguruan tinggi yang menyediakan jurusan filsafat hanya ada 3 yaitu UGM, UI, dan STF Driyarkara, ditambah perguruan tinggi keagamaan yang juga menambahkan jurusan filsafat di fakultasnya. Hal ini menandakan rendahnya minat pengkajian filsafat di Indonesia.

Dilihat dari sejarahnya, filsafat sebagai ratu dari segala ilmu, karena semua percabangan ilmu pengetahuan saat ini namun di era modern semua ilmu memisahkan diri.

“Oleh karenanya, perkembangan keilmuan filsafat dewasa ini sangat bergantung pada perkembangan ilmu pengetahuan. Spekulasi filosofis mulai ditinggalkan, keilmuan berdasarkan hal-hal yang faktual,” tegasnya.

Budhy juga menyatakan bahwa sebagai disiplin ilmu, filsafat bisa memberikan kerangka orientasi atas pandangan dunia kita. Filsafat adalah hidup kita sendiri. Belajar dari begitu populernya buku filsafat “Dunia Sophie”, kajian filsafat bisa memberikan makna yang lebih dalam jika dimungkinkan untuk diselenggarakan di sekolah menengah.

Secara aplikatif praktik terbaik keilmuan filsafat adalah kearifan, filsafat penting untuk menjalani hidup dengan penuh kearifan. Filsafat mengajarkan asal usul kehidupan dan tujuan hidup. Filsafat adalah penggunaan atas nalar. Semakin kritis kita menggunakan nalar, semakin bernilai secara filosofis.

“Manusia perlu menggunakan nalarnya hingga batas yang dimungkinkannya, agar ia bisa mendapatkan kejelasan tentang arti hidupnya. filsafat berangkat dari usaha pencarian kearifan” pungkasnya.

 

 

Editor: Dimas Adi Putra

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life