Home » Menperin ke Prancis Bahas Berbagai Agenda Pertemuan, Termasuk IEU CEPA

Menperin ke Prancis Bahas Berbagai Agenda Pertemuan, Termasuk IEU CEPA

by Junita Ariani
2 minutes read
Menperin bertemu dengan Minister Delegate for Foreign Trade, Economic Attractiveness and French Nationals Abroad Prancis, Olivier Becht

Menteri Perindustrian atau Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan kunjungan kerja ke Prancis dengan berbagai agenda pertemuan.

Baik dengan pemerintah, organisasi antarpemerintahan, serta para pelaku industri di negara yang menjadi mitra strategis Indonesia di Eropa.

Menperin bertemu dengan Minister Delegate for Foreign Trade, Economic Attractiveness and French Nationals Abroad Prancis, Olivier Becht.

Menperin memaparkan beberapa key issues. Meliputi kerja sama dalam bentuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU CEPA, deforestasi, karbon, serta peluang investasi.

“Terkait IEU CEPA, kami sampaikan pentingnya kolaborasi untuk mempercepat penyelesaian perundingan yang sedang berlangsung. Sehingga kedua pihak dapat segera memperoleh manfaat dari perjanjian tersebut,” ujar Menperin dalam keterangan resminya, Kamis (5/10/2023), di Paris.

Dikatakannya, sejak 2016, negosiasi kesepatan IEU CEPA telah berjalan sebanyak 15 putaran. Karenanya, Menperin ingin mengetahui pendapat pemerintah Prancis tentang poin-poin penting perjanjian tersebut.

Termasuk penyelesaian masalah-masalah yang tertunda.

Membahas deforestasi, Agus mengatakan, Indonesia menghendaki praktik-praktik berkelanjutan yang sudah ada dalam rantai pasok pertanian. Di negara-negara produsen komoditas untuk dapat diakui.

Hal ini terkait dengan komoditas ekspor Indonesia yang dikirim ke Uni Eropa.

Harga Karbon USD4,50 per Ton

Menurut Menperin, dalam dalam dua tahun terakhir, laju deforestasi di Indonesia mencapai titik terendah dalam sejarah. Hal itu berkat berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah.

Angka tersebut pada tahun lalu turun sebesar 75% ke level terendah sejak pemantauan dimulai pada tahun 1990. Karenanya, Indonesia ingin terus bekerja sama dengan Prancis untuk memastikan upaya ini tetap efektif dan memberikan hasil yang bermanfaat.

Baca Juga  Disetujui Dewan Gubernur, Indonesia Sah Pemegang Saham Terbesar Ketiga di IsDB

Minggu lalu, Presiden Joko Widodo meluncurkan skema perdagangan kredit karbon pertama di Indonesia, sebagai bagian dari Net Zero Emission tahun 2060.

Pertukaran karbon ini memiliki potensi hingga USD200 miliar. Untuk satu ton CO2 saat ini dijual dengan harga sekitar USD4,50 di Indonesia. Sementara di Uni Eropa harga yang berlaku saat ini adalah sekitar USD92.

Skema ini dirancang untuk menjadi peluang ekonomi baru yang berkelanjutan. Hal ini juga sesuai dengan arah gerak dunia menuju ekonomi ramah lingkungan.

“Sekali lagi, saya berharap Prancis dapat menjadi bagian dari perubahan kami menuju masa depan yang lebih berkelanjutan,” jelas Menperin.

Ia juga mendorong Prancis berpartisipasi dalam pendalaman struktur industri melalui investasi untuk mengisi pohon-pohon industri yang masih kosong.

Hal ini penting untuk membawa Indonesia menjadi negara dengan perekonomian tinggi pada tahun 2045. Menurutnya, kebijakan ini juga bernilai tambah tinggi, dan kunci bagi Indonesia menjadi bagian dari rantai pasokan global.

Untuk itu, Menperin mengundang Prancis berinvestasi dan menjadi bagian dari perjalanan ini. Dapat  memberikan hasil yang tinggi sebagai pendatang awal di berbagai industri.

“Kami juga akan bertemu dengan perusahaan otomotif asal Prancis untuk bekerja sama dalam mengembangkan industri electric vehicle (EV),” papar Agus. *

#beritaviral
#beritaterkini

Email : junitaariani@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life