Home » Pariwisata, Bisnis Kuliner, dan Persoalan Sampah Makanan di Indonesia

Pariwisata, Bisnis Kuliner, dan Persoalan Sampah Makanan di Indonesia

Oleh: Gus Nas Jogja

by Achmat
3 minutes read
Ilustrasi musim libur. Foto: Image by tawatchai07 on Freepik

ESENSI.TV - JAKARTA

Relasi nyata dan erat antara pariwisata, bisnis kuliner, dan sampah makanan:

A. Pariwisata:

1. Meningkatkan permintaan makanan di restoran, hotel, dan tempat wisata.
2. Jenis makanan yang ditawarkan: makanan lokal, internasional, dan street food.
3. Dampak: Peningkatan sampah makanan, terutama sisa makanan dari wisatawan.
4. Kemasan makanan yang berlebih, terutama plastik sekali pakai.

B. Bisnis kuliner:

1. Persaingan ketat mendorong restoran untuk menawarkan menu yang menarik dan bervariasi.
2. Kesalahan perkiraan permintaan dapat menyebabkan kelebihan produksi makanan.
3. Dampak: Sampah makanan dari dapur restoran dan sisa makanan dari pelanggan.
4. Penggunaan bahan makanan yang berlebihan dan pemborosan sumber daya.

C. Persoalan sampah makanan di Indonesia:

1. Volume:
Indonesia menghasilkan 23-48 juta ton sampah makanan per tahun.
Sekitar 115-184 kg sampah makanan per orang per tahun.
Peringkat kedua di Asia Tenggara setelah Thailand.

2. Dampak:
Ekonomi: kerugian finansial bagi industri dan rumah tangga.
Lingkungan: emisi gas rumah kaca, pencemaran air dan tanah.
Sosial: memperburuk ketahanan pangan dan ketidakadilan.

D. Solusi:

1. Pemerintah:
Menerapkan regulasi terkait pengelolaan sampah makanan.
Meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat.
Mendukung program dan teknologi pengolahan sampah makanan.

2. Bisnis kuliner:
Menerapkan sistem manajemen stok dan perkiraan permintaan yang lebih baik.
Menawarkan menu yang lebih variatif dengan porsi yang lebih kecil.
Mengubah sisa makanan menjadi hidangan baru atau kompos.

3. Masyarakat:
Mengubah kebiasaan konsumsi: membeli secukupnya, menghabiskan makanan, dan membawa wadah sendiri.
Mendukung bisnis kuliner yang menerapkan praktik berkelanjutan.

E. Pentingnya kolaborasi:

1. Upaya kolektif dari pemerintah, bisnis, dan masyarakat untuk mengatasi masalah sampah makanan.

2. Menuju pariwisata dan bisnis kuliner yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

F. Contoh solusi inovatif:

1. Aplikasi dan platform digital:
Membantu menghubungkan restoran dengan organisasi yang membutuhkan makanan.
Memudahkan masyarakat untuk membeli makanan sisa dengan harga yang lebih murah.

G. Pengolahan sampah makanan:

1. Mengubah sampah makanan menjadi pupuk organik, pakan ternak, atau biogas.
2. Mendorong ekonomi sirkular dan mengurangi dampak lingkungan.

Sampah makanan adalah masalah serius yang perlu diatasi bersama.
Upaya kolektif dan solusi inovatif diperlukan untuk mencapai pariwisata dan bisnis kuliner yang berkelanjutan.

Kolaborasi antara pemerintah, bisnis, dan masyarakat adalah kunci untuk masa depan yang lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

Baca Juga  Tiga Gili Destinasi Favorit di Pulau Lombok yang Wajib Dikunjungi

H. Elaborasi dan Rekomendasi

Pariwisata dan bisnis kuliner di Indonesia memiliki hubungan yang erat. Kuliner menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Keberagaman dan kekhasan kuliner Indonesia menjadi nilai tambah yang menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

Namun, di balik geliat pariwisata dan bisnis kuliner, terdapat permasalahan yang perlu di addressed, yaitu persoalan sampah makanan.

I. Dampak Sampah Makanan

1. Dampak Ekonomi: Kerugian ekonomi akibat sampah makanan di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 213 triliun per tahun.

2. Dampak Lingkungan: Sampah makanan yang dibuang ke TPA menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang memperparah perubahan iklim.

3. Dampak Sosial: Sampah makanan menjadi ironis di tengah masih banyaknya masyarakat yang kekurangan pangan.

J. Faktor Penyebab Sampah Makanan

1. Perencanaan dan pengelolaan yang tidak optimal: Baik di sektor pariwisata maupun bisnis kuliner, seringkali terjadi perencanaan dan pengelolaan yang tidak optimal, sehingga terjadi surplus makanan yang berujung pada pemborosan.

2. Kebiasaan konsumen: Konsumen seringkali memesan makanan lebih dari yang mereka butuhkan, dan tidak menghabiskan sisa makanannya.

3. Kurangnya edukasi: Kurangnya edukasi tentang dampak sampah makanan dan cara-cara penanggulangannya.

K. Solusi

1. Pemerintah: Menerapkan regulasi dan kebijakan terkait pengurangan sampah makanan, seperti insentif bagi pelaku usaha yang menerapkan program pengurangan sampah makanan.

2. Pelaku usaha: Meningkatkan efisiensi perencanaan dan pengelolaan bahan makanan, serta edukasi kepada konsumen untuk mengurangi pemborosan.

3. Masyarakat: Meningkatkan kesadaran tentang dampak sampah makanan dan menerapkan kebiasaan yang lebih bertanggung jawab, seperti memesan makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskan sisa makanan.

Beberapa contoh solusi yang dapat diterapkan:

1. Penerapan program “food sharing”: Sisa makanan dari restoran dapat didonasikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
2. Pengolahan sampah makanan menjadi kompos: Sampah makanan dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah.
3. Pengembangan teknologi: Teknologi dapat digunakan untuk membantu memonitor dan mengoptimalkan pengelolaan bahan makanan.

L. Kesimpulan

Persoalan sampah makanan di Indonesia merupakan masalah yang kompleks dan membutuhkan solusi dari berbagai pihak.

Dengan kerjasama dan komitmen dari pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, diharapkan permasalahan ini dapat diatasi dan dampak negatifnya dapat diminimalisir.

#KitaBisa!

 

Editor: Raja H. Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life