Home » Pemasangan Chattra Candi Borobudur Makin Mengerucut, Kedepankan Spiritualitas

Pemasangan Chattra Candi Borobudur Makin Mengerucut, Kedepankan Spiritualitas

by Junita Ariani
2 minutes read
FGD rencana pemasangan Chattra Candi Borobudur

ESENSI.TV - JAKARTA

Kementerian Agama (Kemenag) kembali membahas format kunjungan ke lapangan seiring rencana pemasangan Chattra pada Candi Borobudur. Kunjungan itu akan dilakukan pada 18-22 Maret 2024.

Pembahasan itu dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD), di Jakarta dan dihadiri Tim Ahli dari Pusat Arkheolog Prasejarah.

Kemudian hadir juga Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Irfan Mahmud bersama sejumlah peneliti, pakar, praktisi, serta Tim Pemanfaatan Candi Borobudur Ditjen Bimas Buddha.

Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha, Kemenag, Supriyadi mengatakan, pihaknya sudah berkali-kali melaksanakan komunikasi dengan BRIN. Untuk mewujudkan arahan Presiden Joko Widodo terkait lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Serta pembahasan tatakalola serta perubahan tatakalola kawasan Candi Borobudur.

“Dalam rapat mengedepankan perlakuan yang berbeda terhadap 5 DPSP khusus di Candi Borobudur yang tidak hanya mengedepankan dari sisi pariwisata. Tapi juga mengedepankan tentang spiritualitas yang ada di Candi Borobudur,” ungkap Supriyadi, Kamis (14/3/2024).

Ia menyebut beberapa pertemuan dengan ruwat-rawat, dalam pembahasan tetap mengedepankan nilai spiritualitasnya.

“Artinya bahwa di antara komunitas pengiat budaya salah satu dengan ruwat rawat, berkaitan dengan spiritualitas yang ada di Candi Borobudur,” jelasnya.

Tim Ahli BRIN, Irfan Mahmud, menyebut FGD untuk melakukan riview terhadap pendekatan yang sudah digunakan. Dan, mencoba melakukan pendekatan rekontrusionisme dengan melihat secara holistic. Tidak hanya material dan arkheologinya, tetapi dari sisi keilmuan, sisi kebutuhan serta spiritualitas.

Baca Juga  Berburu Matahari Terbit sambil Wisata Kuliner, di Mana Lokasinya?

Nilai Spiritual

Terkait pelaksanaan rencana jadwal kajian dampak di lapangan, Irfan Mahmud menyebut akan menguatkan dari segi arkheologi.

Untuk melihat kembali berbagai bahan atau bata-bata yang sudah tersedia dan mencoba meyelaraskan apa yang kemudian bisa bersinergi. Untuk mendukung satu gagasan menjadikan chattra sebagai salah satu ikon di Candi Borobudur.

“Kami akan mencoba mempertemukan pandangan dari berbagai aspek, kemudian melihat bagian-bagian yang bisa melihat kemungkinan untuk disepahami. Tentu ada berbagai diskusi nantinya dari berbagai kalangan,” pungkasnya.

Pakar/praktisi Agama Buddha Hendrick Tanuwidjaja berpandangan, pemaknaan chattra yang akan terpasang pada stupa induk Candi Borubudur akan mempunyai nilai spiritual. Dan, terdiri dari beberapa lapisan sesuai dengan Tripitaka (kitab suci ajaran Buddha).

“Chattra terbaik terdiri dari tiga belas lapis tingkatan, sepuluh lapis di bawah melambangkan sepuluh tingkatan pencerahan bodhisattva. Tiga lapis teratas melambangkan tiga kesadaran Buddha yang damai dan tentram,” jelasnya.

Puncak payung di atas tiga belas lapis tersebut kata Tanuwidjaja melambangkan welas asih yang mengayomi semuanya.

Selanjutnya Tim gabungan dari BRIN dan Ditjen Bimas Buddha telah menetapkan jadwal untuk berkoordinasi dengan tokoh agama Buddha. Dan, melakukan penelitian lapangan sesuai dengan hasil diskusi yang telah dilakukan. *

#beritaviral
#beritaterkini

Email : junitaariani@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life