Home » Kepemimpinan Bumi

Kepemimpinan Bumi

by Raja H. Napitupulu
4 minutes read
Hari Bumi

ESENSI.TV - YOGYAKARTA

Kita sedang mengalami transisi besar dan mendasar sebagai warga bumi maupun warga negara Indonesia. Berbagai perubahan menggoncangkan dasar kehidupan yang menyebabkan kejutan, kebingungan, dan kerentanan penghidupan. Perubahan yang dipicu dan dipacu oleh perkembangan teknologi dan sistem kehidupan yang membuat peradaban dunia lari tunggang langgang. Menerabas nilai-nilai kemanusiaan dan menerobos sendi-sendi keseimbangan lingkungan.

Perkembangan Industri Modern

Pada tahun 1962 buku Silent Spring karya Rachel Carson menggugat ambisi perkembangan industri modern. Terutama efek pestisida yang disemprotkan di lahan pertanian skala luas di Amerika yang menyebabkan pencemaran lingkungan. Carson berusaha mengungkapkan suara alam, burung-burung tak lagi berkicau di musim semi, ada apa yang sedang terjadi terhadap lingkungan bumi? Carson sebagai penulis kritis yang terpanggil secara moral memprotes kebijakan pemerintah dan perilaku industri. Khususnya yang menyebabkan pencemaran lingkungan muncul pada awal tahun 60-an. Para penulis kritis lainnya juga tampil, seperti Lynn White yang dikenal melalui kritiknya dalam artikel “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis”, Ralph Nader “Unsafe at Any Speed ” dan Jane Jacobs “Death and Life of American Cities” yang semuanya menangkap kekecewaan atas pendiaman dan pengabaian kerusakan lingkungan hidup sehingga orang-orang kehilangan haknya.

Kemudian pada tahun 1972 buku Limits to Growth, yang merupakan kerjasama 17 peneliti dalam sebuah komisi Club of Rome memprediksi pertumbuhan eksponensial penduduk. Terkait ekspansi ekonomi dan industri terhadap sumberdaya alam yang terbatas. Perhitungan simulasi komputer menganalisis berbagai model sistem kehidupan yang mengalami kecenderungan perubahan eksponensial dan peringatan adanya batas-batas pertumbuhan. Berbagai hasil penelitian yang dipublikasikan itu menggugah kesadaran dan menggugat kabijakan maupun pembangunan yang tidak peduli lingkungan.

Sebagai sebuah refleksi setelah lebih setengah abad ini, apakah keadilan lingkungan semakin mewujud atau jauh panggang dari api? Nampaknya semakin banyak krisis kemanusiaan dan bencana lingkungan global terus terjadi. Masalah kronis dan kritis ini perlu segera ditangani dengan peningkatan kualitas manusia, tata Kelola kelembagaan termasuk peraturan dan pengaturan. Juga sinkronisasi kebijakan pemerintah pusat maupun daerah, sinergi lintas sektor dan aktor pembangunan. Semua isu itu memerlukan kepemimpinan bumi yang mampu mewujudkan pemenuhan hak warga dunia dan keadilan lingkungan.

Keadilan Lingkungan

Semakin banyak masyarakat menyuarakan hak alam dan upaya menegakkan keadilan lingkungan. Persoalannya kecepatan perusakan lingkungan terus terjadi semakin kencang dan meluas. Lihat saja fenomena yang terjadi tidak hanya perubahan suhu bumi dan pergeseran cuaca. Tetapi sudah nampak krisis iklim yang mengakibatkan banjir parah di banyak tempat dan kekeringan di tempat lainnya. Polusi udara dari cerobong asap dan knalpot kendaraan, pencemaran air tanah maupun perairan sungai hingga laut. Termasuk sampah plastik hingga berkumpul seperti pulau mengambang ditengan samudera.

Menegakkan Kepemimpinan Bumi, bahkan pentingnya mengadvokasi Konstitusi Bumi dengan meninjau kembali dan merumuskan kembali agar memberi penguatan pada kelestarian alam dan budaya, peningkatan ekonomi, serta pemerataan kesejahteraan masyarakat dan perwujudan kelestarian bumi.

Baca Juga  Solusi Tragedi Depo Plumpang, Buffer Zone dan Relokasi Depo Minyak

Paradigma Archipelago sangat penting mendasari kebijakan pembangunan Indonesia dalam mengelola pembangunan dan pelestarian lingkungan. Mengelola sumberdaya alam dan budaya yang begitu luas dan kaya keragamannya itu memerlukan kebijakan terpadu dan manajemen strategis yang memiliki rencana kerja jangka panjang yang visioner dan jangka pendek yang mewujud. Inovasi kelembagaan sekaligus intensitas kerja riil di lapangan diperlukan dalam menyulam keragaman alam dan memuliakan budaya masyarakatnya.

Basis kearifan budaya telah turun temurun ada ditunjukkan dengan relief Kalpataru yang terukir jelas di relief candi-candi di Jawa lebih seribu tahun lalu. Kalpataru menggambarkan pohon penting yang menjadi penopang bagi kehidupan suatu peradaban. Kalpataru tidak hanya simbol, tetapi juga memiliki fungsi menjadi ekosistem kehidupan makhluk dan penghidupan masyarakat. Banyak sekali cerita fabel yang digambarkan di relief candi-candi yang menggambarkan bagaimana mengelola lingkungan hayati dan tata kehidupan budaya pada jaman itu, menjadi inspirasi sekarang ini.

Kita bisa menunjukkan pada dunia, bahwa konservasi alam dan budaya yang merupakan kearifan lingkungan budaya lokal telah jauh berkembang sebelum konsep konservasi benua Amerika atau Eropa yang bercorak kontinental yang sering menjadi rujukan kita dalam mengelola pembangunan konservasi.

Menggelorakan Kepemimpinan Bumi

Pada awal Maret 2024 para pimpinan Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MDGB PTNBH) memaklumatkan “Kepemimpinan Membumi” setelah mengikuti kegiatan ALTITUDE (Academic Leadership Training on Innovative Transformation for University Development and Empowerment) yang dikembangkan guna peningkatan kapasitas kepemimpinan para guru besar, berikut pernyataannya:

  1. Sebagai organisasi yang mengemban visi menjadi pemikir bangsa yang berperan nyata dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia; kami peduli terhadap kondisi estafet kepemimpinan nasional, gejolak krisis geopolitik regional, serta bencana ekologi global.
  2. Mengembangkan kepemimpinan akademik para guru besar dan mendorong untuk menjadi guru bangsa yang berkarya nyata guna memperkuat karakter dan jati diri bangsa.
  3. Mengembangkan kepemimpinan dengan keluasan cakrawala cara pandang keilmuan dan keleluasaan pemikiran strategis, dalam turut serta memecahkan masalah bangsa dan menawarkan solusi bagi masyarakat sebagai warga negara maupun warga dunia.
  4. Mengembangkan sumberdaya insani perguruan tinggi melalui pelatihan kepemimpinan yang berlandaskan keseimbangan penguasaan agama dan ilmu yang menjunjung tinggi integritas moral, norma, etika, dan budaya akademik, dalam menjalankan tugas.
  5. Mengoptimalkan peran Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat) untuk kemakmuran bangsa dan kesejahteraan umat manusia.
  6. Mempersiapkan kepemimpinan bangsa visioner yang memiliki jatidiri moral etika serta inovatif transformatif dalam berkarya nyata menyongsong Indonesia Emas 2045.
  7. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut serta memberi solusi sebagai warga dunia.

Demikian pentingnya kepemimpinan bumi dikembangkan untuk memenuhi hak warga dunia dalam mewujudkan keadilan lingkungan. Keadilan tidak hanya untuk kemanusiaan saja, pun juga untuk kelingkungan. Selamat hari bumi dan menyemai kepemimpinan generasi baru mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

 

Penulis: Prof. Dr. M. Baiquni (Guru Besar Geografi UGM)

Editor: Raja H. Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life