Home » Perlu Perhitungan Dampak pada Sektor Riil Pasca Suku Bunga Acuan Naik

Perlu Perhitungan Dampak pada Sektor Riil Pasca Suku Bunga Acuan Naik

by Junita Ariani
2 minutes read
Bank Indonesia telah menetapkan suku bunga acuan menjadi 6 persen.

ESENSI.TV - JAKARTA

Bank Indonesia (BI) telah menetapkan suku bunga acuan menjadi 6 persen. Karena itu, perlu ada perhitungan dampak kenaikan Suku Bunga Acuan BI pada sektor riil.

Karena akan meningkatkan biaya ekonomi tinggi khususnya bagi pelaku usaha yang mendapatkan fasilitas pembiayaan dari perbankan atau lembaga keuangan.

Hal ini disampaikan Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad di Gedung Nusantara II, DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (31/10/2023).

“Saya melihat Bank Indonesia memasuki tahap sulit antara mengimbangi gejolak ekonomi global dan menjaga stabilitas dalam negeri. Kenaikan suku bunga 25 basis poin itu memang harus kita lihat. Hiitung secara mendalam impaknya terhadap sektor riil,”  ujarnya.

Ia memberi contoh beberapa sektor yang rentan terkena dampak dari kenaikan suku bunga acuan tersebut.

Antara lain, sektor properti yang memiliki banyak komponen serta sektor Horeka (hotel, restoran, kafe) atau makanan dan minuman. Kemudian, sektor pariwisata dan sektor lain yang padat karya.

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menjelaskan, kebijakan kenaikan suku bunga bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Hal ini sebagai dampak ketidakpastian global dan sebagai langkah mitigasi terhadap inflasi barang impor.

Baca Juga  Mendag Zulkifli Lepas Ekspor 30.000 Ton Baja Milik KRAS ke Italia

Menanggapi hal tersebut, Kamrussamad juga menyampaikan bahwa menaikan suku bunga acuan bukanlah satu-satunya. Melainkan yang terpenting adalah penguatan fundamental ekonomi dalam negeri.

“Apa fundamental nya? Kita ada tiga kekuatan utama. Pertama pertanian, kedua perkebunan yang ketiga perikanan,” jelasnya.

Pengaruh Terhadap Bahan Baku Impor

Fundamental ekonomi ini menurut dia, harusnya dari awal sudah di desain. Sehingga sektor-sektor unggulan itu bisa menjadi penopang untuk stabilitas ekonomi kalau nilai tukar Rupiah melemah.

Kamrussamad menjabarkan, dengan melemahnya nilai tukar Rupiah maka akan terjadi pengaruh terhadap bahan baku impor. Yang akhirnya akan berdampak terhadap harga dan kompetisi di pasar.

Dampak pengurangan pegawai pada industri juga berpotensi terjadi lantaran kenaikan harga bahan baku dan ketatnya kompetisi pasar.

“Atau bisa jadi mereka melakukan pengurangan karyawan, pekerja, buruh dan seterusnya. Akhirnya nanti bisa menimbulkan pengangguran baru,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Komisi XI DPR RI akan segera mengundang Bank Indonesia untuk mendengarkan penjelasan arah kebijakan makro ekonomi. Hingga tingkat resiliensi dan mitigasinya. *

#beritaviral
#beritaterkini

Email : junitaariani@esensi.tv
Editor: Erna Sari Ulina Girsang/Raja H Napitupulu

You may also like

Copyright © 2022 Esensi News. All Rights Reserved

The Essence of Life